Mengunjungi Pameran Virtual Tentang Privasi

3 min read

Sejak tahun 2017 saya rutin setahun sekali datang di sebuah pameran seni. Kenapa baru di tahun itu, lebih karena perjalanan saya ke kantor melewati sebuah galeri seni yang memang sering mengadakan pameran. Kalau saja saya tidak melewati galeri seni itu, mungkin saya tidak pernah datang.

Tahun ini karena pandemi belum sekalipun saya datang ke pameran seni, karena emang gak ada. Tapi Sebulan belakangan mulai ada lagi pasar seni rakyat yang dibuka tiap hari minggu di salah satu kelurahan. Mungkin minggu depan saya akan datang, tapi sebelum itu saya mengunjungi pameran seni virtual Galeri Privasi.

Kendalikan Privasi

Menurut saya, secara arti kata itu bertolak belakang, privasi menurut KBBI adalah kebebasan, keleluasaan pribadi. Kalau diartikan jadinya mengendalikan kebebasan atau kebebasan yang dikendalikan, aneh kan.

Tapi kalo dilihat lebih jauh lagi kita memang punya masalah dengan kebebasan, seringkali karena merasa bebas, kita tidak bisa menjaga privasi kita dan melanggar privasi orang lain.

Pameran Virtual Galeri Privasi

Pameran virtual Galeri Privasi ini mengangkat tema #KendalikanPrivasi, ada 6 instalasi seni yang ditampilkan, seni yang menggambarkan perilaku kita di dunia online.


KTP = Kerupuk?

Penjualan Data KTP

Karya pertama yang menarik perhatian saya berjudul Data Diecer, di ilustrasikan sebuah kaleng kerupuk yang isinya adalah Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kebanyakan dari kita belum mengerti bahwa KTP adalah hal pribadi yang harus kita jaga. Sering kita dengan asal memasukan data KTP kita di situs-situs yang tidak jelas.

Padahal hanya dengan nomor KTP saja, data kita sudah bisa dibaca oleh orang lain yang bisa saja punya niat buruk. Dalam karya itu digambarkan KTP kita seperti kerupuk yang ada dalam kaleng, semua orang bisa mengambilnya dengan mudah dan murah.

Saya sendiri punya pengalaman dengan penyalahgunaan data pribadi, saya pernah coba ditipu oleh orang yang mengaku dari pihak marketplace dengan iming-iming mendapatkan bonus. Entah data saya bocor darimana, tapi jelas itu sudah melanggar privasi saya.


Sang Pengintip

cara melindungi data di gadget kita

Cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk melindungi smartphone kita adalah dengan mamakai pola kunci layar. Karya berjudul Aku Mengintip Kamu Mengintip dibuat menyerupai pola kunci layar. Pesan yang bisa ditangkap adalah perlindungan data pribadi itu memang harus dimulai dari diri kita sendiri.

Kita harus mulai waspada soal keamanan gawai, entah itu smartphone atau laptop, jangan asal mengunduh aplikasi diluar layanan resmi dan juga rutin memeriksa perizinan aplikasi.

Tentu perlindungan data pribadi bukan cuma tugas masing-masing individu saja, negara juga harus menjamin perlindungan data warganya. Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi sedang dibahas di DPR-RI, semoga saja bisa cepat dirampungkan, agar hukuman untuk orang-orang yang menyalahgunakan data pribadi seseorang bisa dipidana.


Sampah adalah sampah

Lawan Hoax, cari faktanya

Sejak kecil, bahkan sebelum kita bisa membaca, ajaran yang sering diberikan oleh guru dan orang tua kita adalah buanglah sampah pada tempatnya. Bahkan kita sudah diajari untuk memilah sampah basah dan sampah kering. Bertambah dewasa, melupakan ajaran itu.

Sampah di zaman ini tidak lagi berbentuk barang, tapi informasi. Karya berjudul Keranjang Hoax adalah gambaran bagaimana harusnya kita memperlakukan sampah informasi, buanglah di tempatnya.

Untuk memerangi hoax kita harus berliterasi, tidak asal percaya dengan informasi yang kita terima tapi mencari kebenarannya sebelum meneruskan info hoax ke orang lain yang pada akhirnya kita seperti mengoper sampah ke orang lain bukan membuangnya ke tempat sampah.


Obat yang Menyakitkan

Cara Mudah Cek Produk BPOM Secara Online

Tak Semua (Obat) Mengobati adalah judul karya selanjutnya. Masih nyambung sebenarnya dengan karya sebelumnya tentang hoax, tapi di masa pandemi ini hoax tentang kesehatan lah yang sering kita dengar.

Peredaran obat-obatan ilegal seakan jadi hal biasa kita lihat di media sosial, belum lagi obat-obat ini selalu di sponsori oleh artis dan selebgram dengan jutaan pengikut. Sebagian besar dijual secara online tanpa ada izin edar BPOM.

Hoax informasi bisa merusak pikiran kita, hoax soal obat-obatan bisa merusak tubuh kita.


Organ Vital Tambahan

cara mengatur penggunaan smartphone

Smartphone salah satu gawai yang tidak pernah lepas dari keseharian kita. Alat yang satu ini kegunaannya dalam hidup kita tidak hanya untuk sekadar alat komunikasi lagi tapi juga untuk bekerja, belajar dan mendapatkan hiburan.

Dalam karya berjudul Organ Vital Keenam digambarkan smartphone yang sedang diisi dengan sekantung darah, seakan-akan itu adalah bagian dari tubuh kita yang jika tidak diisi darah maka akan membuat kita sekarat.

Mengatur waktu penggunaan smartphone menjadi solusi untuk kita agar mengurangi ketergantungan dan memfokuskan penggunaannya untuk hal yang penting.


Bahagia di Balik Layar

Etika bersosial media

Tiga layar komputer dibuat menjadi akuarium yang diisi ikan cupang dengan dekorasi kamar tidur, kamar mandi dan ruang keluarga. Selama masa pandemi ruang gerak kita hanya terbatas di tempat-tempat itu, tapi karena ada internet kita tidak benar-benar terkurung, kita bisa melihat dunia dan terhubung dengan orang lain dari balik layar smartphone.

Karya berjudul Bahagia di Balik Layar bagi saya tidak hanya sekadar menggambarkan perilaku kita disaat pandemi, tapi juga bisa jadi pengingat bahwa komunikasi yang selama ini kita lakukan dengan internet ini seperti komunikasi palsu. Bagi saya hubungan antar manusia dan manusia memerlukan sebuah kehadiran, bukan dalam dunia maya tapi di dunia nyata.


Enam instalasi seni kolaborasi ICT Watch dan Malya sebagai karya seni tentu tiap-tiap orang bisa memaknai dengan persepsinya masing-masing. Tapi satu hal yang bisa kita sepakati bersama adalah tentang pentingnya menjaga privasi kita di internet.

Bahwa di internet kita tidak hanya jadi pengguna tapi juga harus menjadi pengendali, orang yang bisa memfilter apa-apa yang bisa dan tidak bisa kita bagikan di internet. Kita punya otoritas atas data pribadi kita, jadi #KendalikanPrivasimu.

Yuk kunjungi galeri.privasi.id untuk melihat pameran online dari karya-karya diatas, kamu juga bisa dapat sertifikat, tanda sudah berkunjung dan belajar tentang perlindungan privasi di dunia digital. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.