#BesokSenin: Abaikan Saja Si Badut

1 min read

Semingguan ini hujan, sejak senin hujan di pagi dan sore. Mendekati weekend hujan bisa 24 jam penuh. Bahkan di lebaran Idul Adha pun hujan dari malam takbiran, sampai malamnya lagi.

Jadi gak ada protokol kesehatan pas sholat ied, itu benar-benar berdempetan karena gak kebagian tempat teduh, saya saja sholat di dekat tempat ambil air wudhu, setengah badan basah karena di pertengahan sholat diguyur hujan.

Baru kali ini kayaknya ngerasain hujan bisa 24 jam hingga berhari-hari. Saya cukup beruntung tinggal di daerah yang tidak pernah banjir. Sementara beberapa teman tiap hujan datang sudah bersiap-siap ngungsi. Privilage ini harus disyukuri.

Bersyukur kok harus lihat penderitaan orang lain dulu. Bersyukur mah bersyukur aja…


Mengontrol Komentar.

Kalau tidak di kontrol, saya bisa jadi orang yang paling ribut di twitter atau facebook. Sering kali tweet berakhir di draft tanpa dikirim, atau kalau sempat terkirim, dalam hitungan detik tweet itu langsung dihapus.

Dan ada kelegaan disitu. Lega karena sudah sempat menulis isi pikiran (tanpa harus di post) dan lega karena tidak harus ribut dan harus berdebat dengan orang lain. Kontrol diri dalam ngetweet pun sekarang jadi ketat banget.

Sekarang kalo lihat tweet goblok, kontrol saya adalah ini perlu banget di reply gak ya? terus kalo jatuhnya nanti debat, apa coba yang ingin saya buktikan? dia beneran goblok dan saya pintar? kalo ternyata dia beneran goblok, apakah saya dapat semacam reward atau pengakuan karena lebih pintar? Nggak. Berarti gak usah ditanggepin. Diemin aja.


Mengutuk orang lain.

Biarpun udah gak ikut ribut-ribut, selalu ada sisi jahat di dalam diri kita. Diam-diam kita mengutuk kebodohan dan orangnya, berharap sesuatu yang buruk terjadi.

Minggu ini ramai soal owner nyinyirin pelanggannya yang datang ke restorannya hanya pakai sandal jepit atau piyama. Secara aturan itu wajar-wajar saja, terserah kebijakan restorannya. Tapi karena si owner ini nambah-nambahin posting foto pelanggannya, netizen kemudian marah.

Saya mengikuti keramaian itu, tidak ikut berkomentar. Tapi diam-diam saya mengutuk si owner ini, ada bagian kecil di dalam hati berharap karena kasus ini, restoran itu pelanggannya berkurang.

Jahat banget emang, tapi siapa yang tidak begitu? Kita selalu punya harapan buruk ke orang buruk di internet.


Toxic Positivity

Pada akhirnya memahami manusia itu ternyata rumit banget ya. Bahkan untuk memberi nasehat atau semangat ke orang lain malah bisa jadi racun yang membunuh.

Saya pikir sebelum mengenal istilah itu, banyak pendukung AC MILAN seperti saya yang sudah terjebak dalam toxic positivity itu. Tiap tahun sebagai pendukung milan selalu punya pikiran positif bahwa musim ini akan lebih baik dari musim sebelumnya, walaupun sering dikecewakan kita tetap selalu berpositif.

Musim ini tidak buruk, berhasil ke liga eropa setelah musim lalu kena sanksi. Musim depan milan akan jadi pesaing kuat, pasti. Sebelumnya harus juara liga eropa dulu, dengan performa akhir-akhir ini, pasti juara. (ini contoh toxic positivity).


ANJI = BADUT

Bisakah kita sama-sama menganggap Anji itu adalah badut saja….

Maksudnya, kita terlalu fokus ke badut ini hanya karena dia membahas soal covid, kita tau dia badut tapi malah jadi pusat perhatian. Misalkan dalam pesta ulang tahun, yang harus jadi pusat perhatian itu yang berulang tahun, bukan badutnya.

Badut ini kan menghibur saat acara sedang jeda untuk makan, setelah makan kita gak usah perhatiin lagi, jadi anggap anji seperti itu. Pengisi waktu jeda, buat ditertawakan aja. Tapi diam-diam mengutuk semoga karirnya hancur. HIYAAAAA… tetep.


Bungkus-bungkusan.

AYOLAAAAHHHH APALAGIII INIIIIIIIIIII!!!! MANUSIA PADA KENAPA SIH!!!!!


Selamat berawal pekan, mari jadi manusia yang normal-normal saja.

One Reply to “#BesokSenin: Abaikan Saja Si Badut”

  1. Nah, itu. Setiap ada ribut-ribut di Twitter, yang gue lakukan adalah ikut membalas, tapi disimpan di draft. Kalau udah berhari-hari dan ngecek lagi, draftnya diapus biasanya. Sekarang sebelum ngepos pertimbangannya adalah apakah twit ini akan berpotensi bikin gaji naik? Kalau jawabannya tidak, yaudah berarti tidak sepenting itu untuk ikut berkomentar haha. Tidak berlaku kalau yang goblok adalah MU. Muahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.