#BesokSenin: Was-was kena Corona

1 min read

corona illustration

Saya benar-benar lupa ini adalah hari minggu. Tadi pagi saya bangun pukul 6 pagi, itu pun karena dibangunin. Biasanya saya bangun pukul 5 untuk bersepeda. Ini mungkin karena semalam saya melakukan dosa besar dengan makan 3 bungkus Indomie Goreng Aceh, saking laparnya.

Bersepeda tadi saya memang gak bawa hp karena lowbet, melewati rute biasanya kok agak ramai orang bersepeda. Tapi karena sudah agak telat mulai dan takut telat pulang ke rumah saya tetap melaju cepat. Sampai rumah pukul 7.30 dan merasa agak telat untuk bekerja, baru satu langkah masuk kamar tiba-tiba keinget ini hari minggu!. Sial. Hari minggu adalah kesempatan saya untuk bisa akan nasi kuning di pagi hari, karena di hari biasa makan nasi kuning adalah sesuatu yang bikin tidak produktif karena bikin ngantuk.

Lah, sampe rumah kan masih bisa beli…

Iya sih, tapi saya maunya makan nasi kuning di tempat biasanya saya bersepeda, dan itu jaraknya 11 Km. Jauh boss kalo mau balik.

Gojek: GoFood mas?

SKIPP… lagi kering ini.


Jangan marah-marah dong.

Gak, saya gak marah. Biasa aja.

Entah kenapa ketika berdiskusi atau ngobrol sama teman, saya dianggap sedang marah-marah. Padahal mah biasa aja. Ini lebih ke gak terbiasa kali ya. Saya sebenarnya cukup pendiam, lebih ke tidak peduli sebenarnya. Jadi kalau terlibat dalam sebuah konfrontasi, saya gak tau bagaimana mengontrol suara dan emosi.

Beberapa hari lalu sempatlah konfrontasi dengan ibu-ibu, gak penting masalahnya apa, siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi pada waktu itu saya ikut tersulut emosi lah. Ini lah kenapa saya males ikut-ikutan keributan, karena setelah ikut keributan saya ada rasa menyesal. Kayak kenapa sih harus ngeladenin, harusnya saya kembali ke basic saya yang gak pedulian itu.


“Rik, aku OTG, gak apa-apa kan?”

Saya bukannya gak percaya Corona lagi, tiap hari kalo keluar rumah masih pakai masker, masih sering cuci tangan, dan masih social distancing (kalo ini emang dari dulu). Cuma karena di tempat saya yang positif perharinya mulai berkurang, jadi agak santai. Sampai kemudian ketemu seorang teman, hal yang pertama dia katakan adalah “Rik, aku OTG, gak apa-apa kan?”.

“OTG apaan?” masih gak ngeh. “Orang Tanpa Gejala. Kemarin ku rapid test dan hasilnya reaktif”.

Was-was, tapi kata yang keluar saat itu “Oh gak apa-apa, santaiiii”. Setelah teman ini pulang saya langsung mandi cairan disinfektan.


Istilah minggu ini: Politically Correct

Sering dengar di youtube atau podcast, awalnya saya pikir tulisannya itu political licorect. Ternyata bukan. Karena sering dengar tapi gak paham artinya apa, akhirnya cari tau, masih agak sedikit bingung, tapi kalo dikasih konteksnya saya mengerti.

Intinya adalah soal ketersinggungan dalam berbahasa. Kamu tidak politically correct jika memilih menggunakan kata Buta, dibanding tuna netra karena kata Buta dianggap menghina. Pokoknya yang kayak gitu-gitu lah.. China ke Tiongkok, tuli ke tuna rungu.


Selamat awal pekan!

3 Replies to “#BesokSenin: Was-was kena Corona”

  1. Gue agak-agak gak peduli kalau ada orang yang bilang, “Tiongkok, bukan Cina”, atau “tuna netra, bukan buta.” Gue akan tetap menggunakan kata yang menurut gue mudah dipahami. Karena dari dulu juga disebutnya Cina, dan enggak ada orang Cina yang tersinggung dibilangin orang Cina. Lah kan emang Cina. Kecuali dengan nada mengejek, mau Cina atau Tiongkok kan kalau mengejek ya tetap aja mengejek. Lu paham gak sih maksud gue? Kalau enggak yaudah, ayo kita makan nasi kuning yang jaraknya 11 km itu aja.

    1. Betull. Lagian soal ketersinggungan gitu bisa melebar banget sih. Nginjak semut aja mungkin bisa bikin orang tersinggung. Capek kalo ngomong dan harus mikir orang tersinggung atau gak. Hahah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.