Belajar Dewasa di Tengah Wabah

1 min read

DirumahAja

Sudah beberapa hari ini terawih di rumah dengan keluarga, saya jarang sekali sholat berjamaah di rumah,  belakangan ada momen yang baru saya sadari. Di tiap selesai sholat ada momen salaman, yang muda mencium tangan orang yang lebih tua. Nah saya, di tiap selesai sholat mencium tangan semua anggota keluarga. Mungkin terdengar wajar, sebagai anak ya harus cium tangan orang tuanya.

Saya tidak lagi tinggal dengan orang tua sejak 15 tahun lalu, sempat berpindah-pindah tapi yang paling lama tinggal dengan om dan tante saya yang sekarang. Tidak tinggal dengan orang tua membuat saya merasa bisa lebih mandiri karena mengurusi semua urusan sendiri, karena itu egonya tinggi banget. Jadi momen salaman itu mengingatkan saya kalau di keluarga besar saya tetap anak mereka, keponakan mereka, cucu mereka, bagi mereka saya tetaplah keluarga termuda.

Karena merasa bisa semuanya membuat saya lupa kalau saya hari ini karena diurus oleh orang-orang yang setiap selesai sholat tangannya saya cium. Setiap selesai sholat dan bersalaman saya merasa ego saya perlahan mulai runtuh. Mungkin ini salah satu proses pendewasaan saya, menyadari bahwa saya gak hidup sendirian, saya gak bisa melakukan semuanya sendiri, saya tetap butuh keluarga.

Di masa pandemik ini juga ternyata membawa hikmah lain, kalau di hari biasa orang rumah jarang ngumpul karena sibuk dengan kerjaan masing-masing, sekarang malah lebih sering ngobrol, termasuk ngobrol soal virus corona (Covid-19). Yang paling berbahaya dari virus ini bukan penyakitnya tapi stigma negatif masyarakat pada penderitanya. Tidak hanya itu tapi juga stigma negatif pada keluarganya, tetangganya, bahkan sampai warga kampungnya.

Belakangan efeknya sudah mulai terlihat, jenazah perawat pasien covid-19 ditolak di makamkan di kampungnya, perawat diusir dari kosnya, entah akan ada apa lagi. Yang pasti karena stigma ini, orang yang mungkin saja sudah terpapar virus, jadi takut untuk memeriksakan diri. Orang lebih takut mendapat stigma negatif dari masyarakat daripada takut terkena penyakitnya. Padahal orang-orang yang terpapar virus ini lah yang butuh dukungan untuk sembuh.

Kedewasaan kita diukur dari bagaimana kita memandang masalah dan bagaimana cara kita menyelesaikan masalah itu. Kita harus memberikan dukungan pada orang-orang yang dinyatakan positif covid-19 dan kita juga harus aktif memeriksakan diri jika memang merasakan gejala virusnya dan merasa pernah melakukan kontak dengan orang yang positif-19 tanpa harus takut akan stigma negatif masyarakat.

Untuk pemeriksaan awal covid-19 adalah dengan melakukan Rapid Test, dimana test ini sudah bisa dilakukan dengan mudah. Halodoc sebagai aplikasi yang memberikan solusi lengkap dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, kini mempunyai layanan Rapid Test Drive Thru yang berlokasi di Jabodetabek yang bekerja sama dengan berbagai mitra rumah sakit. Lewat rapid test inilah sampel darah kita akan diuji, agar tahap awal infeksi virus covid-19 bisa diidentifikasi lebih cepat.

Kesadaran diri untuk secara aktif melakukan rapid test adalah suatu bentuk kedewasaan. Karena jika ternyata kita benar-benar sudah terpapar virus karena masih tidak menghiraukan himbauan pemerintah untuk physical distancing, kita hanya akan menjadi Carrier virus dan malah menjangkiti keluarga kita. Tegakah kita? Di masa-masa seperti ini, kita harus bisa menahan diri. Kita bertanggungjawab atas kesehatan diri sendiri dan juga kesehatan keluarga kita.

Kita memang sedang tidak baik-baik saja, tapi cara kita membaca sekitar dan melihat sesuatu secara jernih, bagi saya adalah sebuah bentuk kedewasaan. Momen-momen yang ada sekarang harusnya bisa jadi momen kita untuk belajar lebih dewasa.

Paranormal Experience: Dianggap Gila dan Dibuang Keluarga

Cerita melihat hantu hingga dianggap gila dan dibuang keluarga.
erickparamata
4 min read

‘Mara-mara’ di Media Sosial

Kenapa orang suka 'mara-mara' di media sosial? Ini Tips biar di medsos kerjannya tidak hanya marah-marah doang.
erickparamata
3 min read

Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Jomlo

Grup Whatsapp Alumni. Ini semua gara-gara grup whatsapp. Hebat betul media sosial yang satu ini mempengaruhi bahkan mengubah hidup manusia. Bayangkan saja, teman sekolah,...
erickparamata
4 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.