Melihat Masa Depan Lewat Ikan-ikan Mati

 

Tahun ini saya digempur buku-buku sastra, buku terjemahan dan buku tentang teknologi, padahal genre buku yang paling saya suka adalah komedi. Mungkin emang gak ada buku komedi yang menarik tahun ini kali ya. Ada sih dari beberapa stand up comedian, tapi gak terlalu tertarik karena mereka biasanya lucu di panggung tapi kalo udah nulis jadi garing.

Penulis-penulis novel komedi yang saya suka kebanyakan gak nulis buku lagi, entah mereka merasa bikin buku tidak “menghasilkan” lagi jadi mending ngeyutup, gak tau deh. Tapi ternyata ada blogger yang blognya sering saya baca, ngeluarin buku tahun ini.  Cukup lama juga jeda waktu dari buku terakhirnya. Lama banget, kirain gak nulis lagi karena udah jadi direktur utama Bank. 😛

Tema yang diangkat juga relate dengan keadaan sekarang, sebuah cerita tentang Jakarta masa depan.


Buku Ikan-ikan mati karya Roy Saputra

Bercerita tentang Gilang Kusuma, seorang Bankir di bank pemerintah. Sebagai kelas menengah ngehe Jakarta, Gilang orang yang tidak pernah ketinggalan tren, entah update teknologi terbaru, nongkrong di tempat paling hits, nonton film di hari pertama penayangan dan juga tak pernah ketinggalan memposting setiap momen hidupnya di facebook.

Di masa itu ada aplikasi yang dibuat oleh pemerintah untuk mengontrol setiap postingan di sosial media, sehingga yang ada hanyalah hal-hal baik dan setiap postingan positif akan diberikan reward berupa poin yang bisa ditukarkan dengan diskon di banyak toko, restoran dan tempat hiburan, aplikasi ini bernama IKA (Indonesia Kindness App).

_MG_5983.jpg

Perjalanan kisah cinta Gilang juga menarik, ketika dia harus memilih antara Monita, wanita kekinian yang selalu update atau Citra, cinta lama Gilang saat SMA yang cukup anti mainstream karena tidak terlalu tertarik dengan sosial media.

Aplikasi IKA (Indonesia Kindness App) menjadi semacam dewa bagi Gilang, kawan-kawannya dan para kelas menengah lainnya, sehingga mereka teradiksi dengan aplikasi ini, karena setiap keputusan yang mereka ambil seperti nongkrong dimana, makan dimana diarahkan oleh IKA lewat notifikasi yang diberikan.

Sampai kemudian Gilang merasa ada yang salah dengan ini….

……..

Lang, the good thing is, I don’t have to prove anything to anyone in social media. Kinda think life is easier that way.

“Tapi, semua orang kan main Facebook, Cit. Why bother to be different?”

The real question is… why do we have to be the same? Kita bukan ikan-ikan mati kan lang? yang ngambang dan hanyut terbawa arus?” – (Hal. 132)

IMG_5973.jpg

Judul Buku: Ikan-ikan Mati | Penulis: Roy Saputra | Penyunting: Juliagar R. N. | Tahun Terbit: 2017 | Jumlah Halaman: 318 | Penerbit: Mediakita


Yang diceritakan dalam buku ini memang tentang masa depan, tapi sebenarnya sudah terjadi sekarang di masyarakat kita. Dimana orang-orang menjadi adiktif dengan sosial media, selalu mengupdate apapun yang dilakukan dan kita mulai bergantung pada aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone kita.

Jumlah followers, jumlah like di sosial media kemudian menjadi candu untuk tiap orang, semakin banyak jumlahnya menunjukan eksisnya seseorang. Dan juga tentu dampak buruk sosial media juga sudah kita lihat sekarang, dimana orang menyebarkan hoax tanpa ada rasa bersalah, berantem, membully, memaki, seakan-akan di dunia maya, norma kesopanan itu hilang.

Dan bukan tidak mungkin, yang diceritakan dalam buku ini akan terjadi nanti, dimana pemerintah mulai “mengontrol” apa yang akan kita posting di sosial media. Dimana kita akan dituntut untuk “berperilaku baik” di sosial media sesuai standar yang ditentukan pemerintah. Dan menariknya hal ini akan terjadi di Cina tahun 2020 nanti. Ngeri Banget. (TIRTO.ID – Pakai Sistem Skor, Cara Horor Cina Mengontrol Warganya)

Tentu kita tidak mau kalau hal seperti itu terjadi juga di Indonesia, kita tidak perlu dikontrol pemerintah, kita cukup mengontrol apa yang kita posting. Berpikir dahulu sebelum posting, memikirkan dampaknya akan positif atau negatif.

Secara umum buku ini menarik sih, kita diajak untuk berkontemplasi, memikirkan kembali sikap dan perilaku kita dalam bersosial media, gak ngikutin tren di sosial media, kita kan gak mau jadi ikan-ikan mati yang terbawa arus.

Rating: ⭐⭐⭐⭐ (4/5)

Iklan