Grup Whatsapp Alumni. Ini semua gara-gara grup whatsapp. Hebat betul media sosial yang satu ini mempengaruhi bahkan mengubah hidup manusia. Bayangkan saja, teman sekolah, teman sepermainan waktu kecil, mantan kekasih, mantan teman satu kantor, sanak saudara, yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, yang kita pikir sudah hilang ditelan bumi, tiba-tiba dalam hitungan minggu atau bulan saja, sudah ditemukan, bahkan sudah bisa kontak lagi. karena tiba-tiba kita dimasukan dalam grup whatsapp yang sama.

Berkumpulnya teman-teman lama di grup whatsapp, diikuti dengan maraknya penyelenggaraan acara reuni, sebab pertemuan di dunia maya dirasa tak cukup lagi memuaskan rasa rindu pada teman di masa lalu. Beragam undangan reunipun berdatangan, dari reuni SD hingga reuni mantan. Sayangnya tidak seluruh undangan reuni itu bisa kita hadiri karena berbagai alasan.

Selalu ada perasaan yang sama ketika kita menghadiri acara reuni: perasaan bahagia ketika rindu terobati, saat akhirnya dapat berjumpa lagi dengan sahabat tercinta yang telah hilang bertahun-tahun. Obrolan dan canda tawa yang terjalin, menghanyutkan kita ke masa muda, saat kita masih sekolah dulu. Ah asyiknya ..

Tak menghadiri reuni sebab jomlo.

Dalam sebuah kunjungan ke rumah famili, saya terlibat obrolan serius dengan seorang kerabat dekat saya. Kerabat saya itu seorang laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun dibawah usiaku. Pekerjaan sehari-harinya adalah share berita hoax di facebook. Sebut saja nama kerabatku itu Bowo.

Dengan pekerjaan seperti itu, tentu saja Bowo tidak bisa hidup nyaman berkecukupan secara materi, karena uang makan sering habis dibelikan paket data. Itu terlihat dari rumah beserta isinya yang sangat sederhana dan terkesan seadanya. Dan disini, di atas sehelai karpet di ruang keluarga yang sempit, kami berbincang hangat tentang segala hal, maklum sudah lama tidak bertemu.

Kebetulan saya dan Bowo satu angkatan saat kuliah dulu. Kepada Bowo saya menyampaikan rencana acara reuni akbar jurusan budidaya ikan lele  untuk semua angkatan yang akan dilaksanakan selepas Lebaran nanti. Mendengar kabar itu, Bowo hanya terdiam dan tampak tercenung. Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan perubahan air mukanya. Namun setelah mendengarkan kata-katanya, gantian sayalah yang tercenung cukup lama

Aku tak akan menghadiri acara reuni dimanapun, sebab aku jomlo.”

Kata – kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lirih dan sedih. Saya terhenyak mendengarnya, namun sudah dapat menduga kelanjutan kalimatnya.

Aku malu pada teman-teman yang punya pacar dan istri

Apa hubungannya reuni dengan jomlo? Ayolah datang ! Yang penting silaturahminya. Lagi pula tak akan ada orang yang bertanya-tanya apakah kita masih jomlo atau tidak ! “, bantahku. Bantahan yang aku tahu terdengar sangat klise dan sangat naïf jika tidak dapat dikatakan bodoh.

Bowo hanya tersenyum, menghela nafas, dan menggeleng. “ Aku nggak akan datang “. Pembicaraan tentang reunipun berhenti sampai disitu, tak dilanjutkan lagi sampai saya  pamit pulang.

Pertanyaan – pertanyaan yang membuat rikuh …

Apa yang pertama kali ditanyakan di acara reuni, saat pertama kali berjumpa dengan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bertemu ? Apakah pertanyaan seputar: sekarang tinggal dimana? Kerjanya apa ? Handphonenya apa ? Datang sama siapa? Kok Sendiri aja? Mungkin terdengar seperti pertanyaan biasa saja, basa-basi normal yang acap kali terlontar dalam setiap pergaulan.

Namun bahkan pertanyaan sesederhana itu menjadi sangat sensitif bagi sebagian orang yang (mohon maaf) jomlo seumur hidupnya sementara usia semakin menua umpamanya. Jadi jangankan pertanyaan soal pacarnya mana atau sudah berapa kali pacaran saja sudah cukup membuat sebagian orang enggan menghadiri acara reuni, karena merasa malu dan minder.

Katakanlah pertanyaan -pertanyaan standar sudah terlampaui, lalu masuklah kita pada pertanyaan berikutnya, yakni soal sudah berapa kali ciuman, kepalanya pernah diusap pacar atau belum, pernah ngechat sampai pagi sama pacar atau tidak, dsb. Nah disinlah letak permasalahannya. Ketika pembicaraan sudah menyangkut masalah-masalah itu, akan ada teman-teman yang merasa sangat enggan untuk menjawab, karena merasa minder, sebab kepalanya berdebu karena tak pernah ada yang mengusap dan bibirnya sariawan karena tak pernah ada yang membasahi. Beberapa teman lagi memilih menghindar dengan tidak menghadiri reuni, daripada harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa itu.

Kadang Reuni Memang menjadi Ajang Pamer.

Saya tidak dalam kapasitas menilai acara-acara reuni yang sudah saya hadiri, karena saya sangat menghargai teman-teman yang sudah bersusah payah menyelenggarakan acara tersebut, dan sebab saya sangat menghormati teman-teman saya. Lagi pula semua acara reuni yang saya hadiri, jauh dari kesan pamer-pameran.

Namun di luar itu, kita melihat betapa banyak reuni yang digelar dengan syarat datang bersama istri/suami atau bersama partner, dengan acara dan sajian makanan minuman dan konsep acara untuk berpasangan, lebih mirip sebuah pesta couple ketimbang reuni. Oh ya tentu saja mereka yang hadir adalah orang-orang yang sudah sukses, punya istri/suami karyawan Bank, setiap perbincangan dengan memperkenalkan istri/suaminya yang gajinya di Bank sangat tinggi padahal itu adalah hasil riba.

Apakah mereka teman-teman kita ? Ya tentu saja, mereka adalah teman-teman kita, teman sekolah kita. Bahkan mungkin saja mereka adalah teman sebangku kita, yang terbawa nasib menjadi orang yang tidak jomlo lagi. Perkara mereka telah terlihat cocok dengan pasangannya, jangan lupa sudah berapa masa kita tak berjumpa dengan mereka? Jangan lupa juga, waktu yang telah lama terlampaui membuat manusia berusaha. Tak hanya fisiknya, namun cara PDKT mereka bisa saja berganti.

Tak usah heran jika kemudian dalam kesempatan reuni, kita menemukan teman karib kita begitu membanggakan pasangannya, menceritakan dengan penuh semangat berapa kali dia pacaran, berapa hati yang telah dia patahkan. Menceritakan dengan sumringah perjalanan-perjalanan cintanya, seraya mengusap rambut pasangannya yang ada disampingnya. Jika sudah begini, tak ada gunanya kita membanggakan hasil PDKT kita yang hanya sampai level dekat tapi gak jadian. Tak ada manfaatnya, karena sama sekali bukan itu ukuran kesuksesan pacaran.

Lebih banyak teman-teman yang kurang beruntung.

Lalu bagaimana dengan teman-teman yang belum sukses berpasangan? bagaimana dengan teman-teman yang siang malam PDKT tapi tak ada hasil seperti Bowo? yang sudah dekat tapi jadiannya sama yang lain? Yang deket lagi mau pacaran tapi pasangannya mau fokus skripsi dulu, eh besoknya jadian sama temennya? Apakah orang-orang seperti Bowo akan memiliki cukup keberanian untuk hadir ke acara reuni seperti itu ? Bowo tidak berani, dan saya rasa banyak orang seperti Bowo yang juga tak cukup memiliki nyali untuk melakukannya.

Saya sangat memaklumi perasaan Bowo. Sebab bagi orang yang payah dalam berasmara, pembicaraan tentang pasangan hanya akan melukai perasannya. Bowo mungkin tidak merasa iri dengan keberhasilan teman-temannya, tapi dia jelas merasa sedih. Betapa tidak merasa sedih, jika dilihatnya teman-teman sepermainannya hidup serba berkecukupan cinta, sementara dia serba berkekurangan ?

Saya jadi berpikir, pantas saja acara- acara reuni yang saya datangi, hanya dihadiri sebagian kecil saja dari jumlah keseluruhan yang tercatat dan seharusnya hadir. Kemanakah gerangan teman-teman yang lain ? mengapa tidak ada kabar beritanya ?. Tadinya saya berpikir, mereka mungkin sibuk, atau terkendala jarak yang jauh. Namun melihat Bowo, saya jadi berpendapat lain. Mungkin karena mereka yang tidak hadir itu memiliki alasan yang sama dengan Bowo: merasa malu menghadiri reuni karena jomlo.

Seharusnya persahabatan tidak terhalang status sosial.

Saya tetap merasa bersyukur, karena sebagian besar teman-teman saya tidak berkelakuan aneh, meski mereka telah sangat sukses punya istri 2 dan 7 pacar dalam satu waktu. Hanya segelintir saja yang bersikap sangat ajaib, kalau tidak bisa dibilang norak dan berlebihan dalam memamerkan pacarnya. Mereka ini sangat tidak empatif terhadap orang-orang yang kesusahan.

Bagi orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi, pasangan sama sekali bukan ukuran kesuksesan, dan sama sekali bukan syarat bagi terjalinnya sebuah pertemanan. Dari dulu sampai kapanpun, teman tetaplah teman, tak boleh ada yang menghalangi, apalagi hanya sekedar harta yang sifatnya sementara.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa reuni tidak pernah salah. Yang salah adalah segelintir oknum hadirinnya. Hadirin yang berlagak jadi orang yang paling laku sedunia, yang bersikap mentang-mentang. Orang-orang seperti inilah yang membuat teman-teman yang kurang beruntung, menjadi enggan hadir, dan menyebabkan tujuan reuni tidak tercapai.

Sementara pendapat saya bagi teman-teman yang enggan menghadiri reuni karena faktor ketiadaan pasangan, percayalah bahwa sebagian terbesar dari kami adalah orang-orang yang memandang persahabatan adalah sesuatu yang sangat bernilai dalam hidup kami. Tak perlu malu menghadiri reuni hanya karena ketiadaan pasangan, karena kami tak peduli. Kami hanya rindu padamu, kami hanya ingin mendengar kabar, bahwa engkau tetap sehat dan penuh semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Kami hanya ingin berteman denganmu, selamanya. Selebihnya, tak penting lagi. 🙂


Tulisan ini adalah rewriting dari artikel berjudul Tak Kuhadiri Reuni Sebab Aku Miskin karya Bu Anni di Kompasiana. Artikel yang saya baca bertahun-tahun yang lalu dan paling nempel di ingatan. Saya menulisnya kembali dengan keresahan yang berbeda, bukan lagi curhat. Lagi gak ada kerjaan aja karena baru resign. udah. itu aja. 😀

Iklan

11 thoughts on “Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Jomlo

  1. Wah beda sama bowo, klo masalah status sosial saya tidak banyak terganggu. Masalahnya dari dulu saya itu orangnya tidak gaul. Sekalipun ikut reunian, nggak bakalan dianggap ada. Jadi mending nggak usah ikut. 😀

  2. Acara reuni bukan sesuatu yang wajib dihadiri. Bukannya apa-apa sih, saya kurang suka dengan keramaian, selain itu daya ingat saya juga terbilang lemah. Mengingat nama teman saja kalau dia tidak akrab sekali dengan saya atau memberikan kesan yang kuat, saya pasti lupa. Yang saya ingat cuma wajahnya saja. Parah kan? Tapi ya begitulah nyatanya..
    Biasanya ajang reuni ada karena mayoritas dari temen-temen yang tenar, kalau kayak saya yang biasa-biasa gini mah nggak ada yang kenal, jadi buat apa datang, mending piknik sendiri.

  3. gue masih pertama kali denger nih, kalimat ‘tercenung’ ‘bersikap mentang-mentang’. beneran ada tuh ya, rik?

    tapi, kalo bowo ngerasa bahwa ga punya pasangan menjadi suatu kendala, beda jauh sih sama gue. karena gue santai juga sih, engga menganggap punya pasangan itu sebuah prestasi.
    gue malah lebih khawatir untuk ngobrol sama temen” gue yang lama sih. terutama temen gue sd. ya karena takutnya ga nyambung lah, pembahasannya diluar apa yang gue pelajari selama ini. heuheuheu. kalo pun ada reuni gue bakalan tetep ikut sih, walaupun ga berani ngobrol sama mereka” senggaknya gue mau melihat, bahwa temen” gue udah beda entah fisik atau jabatannya. dan itu jadi motivasi buat gue.
    ini kenapa jadi curhat yak gue. hehehe

    tapi, seru juga sih tuh punya sahabat yang beneran punya dua istri plus 7 pacar. mantap jiwa

    1. Menurut KBBI:
      ter.ce.nung
      a (duduk dan sebagainya) diam-diam tafakur karena memikirkan sesuatu dalam-dalam; termenung-menung; termangu-mangu.

      Wah kalo gue jadi lu Zi, gue juga bakal datang ke reuni… mau banggain kalo kuliah di Mesir, Al-Azhar. Hahah.

  4. Saya si mau ikut reuni kalo temen deket mau ikut reuni juga, soalnya males bat kalo reunian ga bareng temen deket, soalnya saya itu dikelas pendiem bat, jadinya hanya akrab sama temen deket saya itu biar ada temen ngobrol :’v

    1. wkwkwk…
      budidaya ikan lele. emang ada jurusan itu? hahaha

      gue sih lebih ke risih pada pamer status sosial. obrolannya seputar kerjaan. yg punya kerjaan bagus ngobrolin kerjaannya sesama yang punya kerjaan bagus. obrolannya udah beda. mangkanya agak males gue. padahal kan enaknya reiuni itu kita meninggalkan segala atribut yang kita punya sekarang dan menjadi diri kita kayak waktu jaman temenan dulu. gue ngeliatnya reiuni jadi ajang pamer gitu sih. termasuk pamer pasangan. hihi

Abis baca-baca gak mau komentar dulu nih? Sinilah.. diskusi kita. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s