Mohungguli Puisi Bersama Joko Pinurbo

Mohungguli = Bercerita

“Siapakah sebenarnya kamu, puisi?” “Saya adalah kejutan.” -Jokpin

Tidak banyak sastrawan yang saya tahu. Dan dari sedikit yang saya tahu itu, dia lah Jokpin. Saya termasuk penggemar barunya, baru sekitar 2 tahun yang lalu saya mengenalnya lewat salah satu puisinya yang di bagikan oleh salah satu laman facebook. Puisi yang berjudul “Celana Ibu”.

Awalnya saya tertawa membaca puisinya, karena saya mengartikan itu adalah puisi lelucon yang menceritakan asal mula hari raya paskah. Tapi dibalik itu saya menemukan arti yang dalam tentang kasih sayang seorang Ibu. Maria menjahitkan celana baru untuk Yesus sebelum dia naik ke surga.

Ya, puisi yang mengandung sensitifitas soal agama. Keberanian seorang Jokpin. Padahal di Indonesia ini hal-hal yang kayak gitu bisa menimbulkan aksi wiro sableng. Entahlah, mungkin saat puisi itu di publikasikan orang belum mengenal Jokowi atau Ahok. 😀

Selasa malam kemarin saya berkesempatan bertemu langsung dengan Jokpin..

 

Di acara bertajuk bincang sastra dan diskusi puisi bersama Joko Pinurbo. Acara itu juga dirangkaikan dengan peluncuran buku antologi puisi 12 penyair Gorontalo berjudul Kilau Merah Mata.

Jokpin banyak bercerita tentang  prosesnya dalam membuat puisi dan juga perjalanan karirnya yang butuh penantian lama. Menulis puisi sejak umur 15 tahun, tapi buku pertamanya baru terbit saat dia umur 37 tahun. Waktu yang cukup lama, ini seorang Jokpin loh! bukan selebtwit yang baru punya follower 4 digit, langsung bikin buku. 😛

Jokpin sempat membakar puisi-puisi lamanya, karena frustrasi 3 kali mengirim naskah ke penerbit tak satu pun yang diterima. Tapi memang semua ada waktunya, di umurnya yang ke 37 tahun, kesempatannya datang.

Soal puisi, saya orang yang bingung dan tidak tahu cara menikmati sebuah puisi. Puisi dengan diksi-diksi berlebihan, membuat saya pusing, seperti membaca buku Kiat Beternak Lele Menggunakan Stapler. Membayangkannya saja, saya pusing.

Belum lagi kata Jokpin, puisi itu soal kecermatan berbahasa dan kualitas puisi itu bergantung pada detil-detil kecil. Yang mana, saya kesulitan dalam keduanya. Saya orang yang agak malas berpikir untuk hal-hal yang remeh, puisi adalah salah satunya. HAHAHA! Tapi sedikit banyak pandangan itu berubah lewat sharing Joko Pinurbo malam itu.

Diskusi juga diselingi pembacaan puisi dari beberapa orang dan dikomentari langsung oleh Joko Pinurbo. Malam itu juga sekaligus peluncuran buku antologi puisi karya 12 penyair Gorontalo.

wp-1505190015271.

Buku ini dibagikan gratis, tadinya saya belum mau buka bungkusnya dan jadikan buku ini hadiah giveaway, udah lama juga gak bikin giveaway di blog ini. Tapi karena penasaran pengen baca, jadi buku ini belum bisa jadi hadiah. Nanti lah, saya carikan buku yang lain. 😀

Saya baru membacanya sebagian. Bagus-bagus puisinya. Beberapa ada yang saya suka karena punya makna yang dalam. Beberapa lainnya membuat saya bingung.

12 penyair ini adalah peserta kelas menulis puisi Kantor Bahasa Gorontalo, di awal kelas ini dimulai, saya sebenarnya juga ikut diajak. Tapi memang waktunya gak pas karena kelasnya kadang di adakan di weekday. Padahal saya pun ingin tahu bagaimana caranya menulis puisi.

Diskusi itu berjalan hingga pukul 11 malam, gak berasa. Mulai berasa lamanya pas mulai ngomongin kantor Bahasa Gorontalo yang sangat jarang membuat acara seperti ini. HAHAHA!

Di akhir saya pulang lebih dulu saat Jokpin sedang melayani permintaan foto bareng dan tanda tangan di buku-bukunya. Saya tidak ikut berfoto dan meminta tanda tangan karena sharing dari Jokpin sudah lebih dari cukup. 🙂

Apa langkah pertama menulis puisi? Tak perlu melangkah. Duduk manis saja. -Jokpin

Iklan