Melindungi Data Digital Kita

I don’t see myself as a hero because what I’m doing is self-interested: I don’t want to live in a world where there’s no privacy and therefore no room for intellectual exploration and creativity.” – Edward Snowden

Saya mungkin agak telat nonton film ini, kisah Edward Snowden yang diangkat ke layar film. Yah mungkin udah banyak dramanya tapi ini film yang menarik. Karena dunia seperti itu lah yang ada sekarang, dunia dimana orang mulai menyimpan datanya secara digital, dimana semua orang terhubung dengan yang namanya internet. Kecuali kamu orang yang masih pakai surat untuk berkirim pesan dan menulis diari daripada menulis di blog mungkin gak perlu khawatir dengan ini.

Satu yang membuat saya kepikiran dari film Snowden adalah bagaimana orang-orang bisa dipantau lewat kamera laptopnya. Itu ngeri loh.. haha. Sekarang tiap abis mandi dan kalo lihat layar laptop dalam keadaan terbuka saya akan langsung menutupnya. Menjaga aja, kalau-kalau pemerintah lagi kesal ke saya nanti video itu malah disebarin ke publik. Kayak kejadian baru-baru ini Mendagri sebar e-KTP orator yang mengkritik Jokowi.

Kita tidak tahu, mungkin saat ini kita sedang dimata-matai oleh pemerintah kita sendiri, semua data kita dari pesan text, rekaman pembicaraan telepon, lokasi kita mungkin bisa diakses dengan mudah. Atau kalaupun itu belum terjadi sekarang, pasti akan terjadi dimasa depan, teknologi kan terus berkembang. Film-film hollywood bahkan sudah pernah beberapa kali mengangkat film dimana pemerintah mengikuti gerak-gerik warganya lewat teknologi, coba deh nonton Enemy of The State nya Will Smith atau Eagle Eye nya Shia LaBeouf. Ngeri itu sih… Tidak ada lagi ruang pribadi jika seluruh gerak-gerik kita dipantau oleh orang lain. Cara mudahnya, kita harus melindungi data-data kita. Jadi bagaimana sebenarnya cara kita melindungi data digital agar tidak mudah diakses oleh orang lain?

1. Pakai WhatsApp

Kenapa Whatsapp? setahu saya WhatsApp adalah aplikasi pengiriman pesan yang sudah menerapkan end-to-end encryption, artinya pesan kita hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerima saja, bahkan pihak WhatsApp pun tidak bisa melihat pesan kita. Fitur itu banyak dipermasalahkan oleh pemerintah di banyak negara termasuk Indonesia, karena WhatsApp tidak bisa dipakai untuk penyadapan.  WhatsApp Rilis Fitur Baru yang Membuatnya Berpotensi Diblokir di Indonesia

Tapi ada juga yang harus dikhawatirkan dari whatsapp adalah soal data nomor hp kita yang dipakai untuk kepentingan bisnis. Setelah whatsapp diakuisisi facebook, artinya data-data itu juga jadi milik facebook dan bisa digunakan untuk kepentigan bisnis facebook.

2. Otentifikasi Ganda

Saya akan menerima email seperti itu jika ada yang masuk ke akun twitter atau akun google. Kadang mengganggu, tapi saya bisa tahu jika tiba-tiba ada email pemberitahuan masuk tapi bukan saya. Untuk akun Google sendiri saya punya beberapa, jadi satu email terhubung ke email lainnya, saya tidak memakai email utama untuk registrasi-registrasi di situs-situs baru. Jika satu email di hack atau lupa password maka saya tinggal mengecek email lainnya untuk konfirmasi. Jadi semacam cabang pohon gitu. haha. Sedangkan email utama saya tidak terlalu khawatir karena terhubung langsung dengan nomor handphone saya.

Kalau untuk facebook saya tidak terlalu khawatir jika di hack, karena facebook menurut saya saat ini keamannya sangat bagus. Mereka punya otentikasi menggunakan KTP untuk mencocokkan bahwa kita adalah pemilik akun.

3. Rutin Mengganti Password

Walaupun saya menyarankan ini, cara ini sangat jarang saya lakukan. Haha. Saya hanya punya 3 password kombinasi untuk semua situs yang memerlukan kita untuk login. Setahun sekali satu password saya pensiunkan dan mengganti password yang baru. Hahahaha.

Tapi tetap saja ini penting!

4. Menggunakan Virtual Private Network (VPN)

VPN ada baiknya digunakan saat kita sedang memakai wifi publik, seperti di cafe atau taman. Wifi publik sangat rentang dengan serangan, saya tidak tahu apakah di Indonesia sudah ada yang menggunakan celah itu untuk mencuri data, tapi di beberapa negara celah ini sudah dimanfaatkan. Artikel menarik tentang Why You Really Need to Stop Using Public Wi-Fi.

5. Incognito Mode Tidak Benar-benar tersembunyi

Incognito Tab

Kalo ada yang pernah berpikir bahwa dengan menggunakan incognito tab anda sudah aman, bebas berselancar di situs mana pun tanpa ada yang tahu, anda salah. Mode incognito hanya mencegah untuk menyimpan riwayat browser dan cookie saja. Dalam halaman Bantuan Google Chrome  disebutkan bahwa Orang lain masih dapat melihat beberapa informasi.

Mode Penyamaran hanya mencegah Chrome menyimpan aktivitas kunjungan situs Anda. Mode Penyamaran tidak akan menghentikan sumber lain melihat situs yang telah dikunjungi, termasuk:

  • Penyedia layanan internet
  • Atasan (jika Anda menggunakan komputer kantor)
  • Situs web yang dikunjungi

Di zaman yang serba digital ini, ditambah internet semua data-data kita dikumpulkan, dan semua itu tanpa kita sadari. Google menurut saya adalah perusahaan yang paling banyak mengumpulkan data-data kita. Google bisa tahu preferensi minat kita dari hasil berselancar di internet dan yang paling ngeri adalah… google mapsnya. Setiap hari kita dilacak, kemanapun kita pergi maka akan terdata di google mapsnya.

Kronologi
Google Maps secara otomatis mencatat tempat-tempat yang kita datangi setiap hari, tanpa harus membuka aplikasinya. Ngeri…

Intinya kita harus benar-benar waspada sih.

Iklan

4 thoughts on “Melindungi Data Digital Kita

Add yours

  1. Nah iya ngeri ya sekarang, iklan-iklan di sosmed bisa sesuai dengan apa yang kita pengenin.

    Soal keamanan berikirim pesan, telegram masih yang paling aman kayaknya.

    Mengenai password, saya juga rutin ganti tapi biasanya password baru masih ada hubungannya dengan password lama, takutnya malah lupa.

  2. Yups. Rekaman digital jadi alternatif tercepat untuk berbagi pun dengan menyimpan. Konsekuensinya, ya sudah dijelaskan.

    Yang perlu kita lakukan, bagaimana sebaiknya menjaga sikap kita di dunia digital, agar kalau pun “beredar” ya yang aman aja 🙂

Abis baca-baca gak mau komentar dulu nih? Sinilah.. diskusi kita. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: