Sebulan bersama si Cantik

Minggu ini baru saja menyelesaikan sebuah novel gemuk dari Eka Kurniawan, kenapa gemuk? karena novelnya sangat tebal dan saya butuh waktu satu setengah bulan untuk selesai membacanya. Kalo kalian pembaca yang skillnya tingkat tinggi mungkin bisa membaca ini cukup sehari. Tapi saya tidak akan sanggup, karena ingin menikmati jalan ceritanya, saya membacanya sepotong demi sepotong. Kayak makan es krim, sedikit-sedikit sampai akhirnya meleleh…

Buku ini bukan buku Eka Kurniawan yang pertama saya baca, sebelumnya saya membaca karyanya berjudul “O” yang juga cukup tebal, eh maaf bukan cukup tapi benar-benar tebal. Hampir 500 halaman dan saya membacanya lebih dari 2 bulan. Tapi dari buku itulah awal mula saya mengidolakan Eka Kurniawan.

CIL

Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberikan nama Si Cantik.

Membaca blurb nya saja saya sudah tertarik, saya membayangkan ironi yang akan dialami anak keempat yang buruk rupa dan punya nama si Cantik. Tapi ternyata buku ini tidak hanya bercerita tentang si Cantik (yang buruk rupa) tapi juga bercerita tentang Cantik-cantik yang lain (Ibu dan 3 kakaknya).

Eka Kurniawan membawa saya ke banyak zaman, dari masa kolonial akhir masa penjajahan Belanda, lalu kedatangan Jepang, masa kemerdekaan, masa dimana PKI menjadi partai yang berjaya di Indonesia hingga masa dimana terjadinya Petrus (Penembakan Misterius) di tahun 80an. Buku ini membawa kita mengenal sejarah dari sisi yang berbeda.

Ada banyak karakter dibuku ini, orang-orang mungkin akan bingung siapa karakter utama di buku ini, karena porsi cerita mereka yang berimbang. Setelah masuk ke cerita yang penuh tanda tanya, di bab-bab akhir saya dibuat ternganga. Di kepala saya hanya ada suara “ooohh ternyata…gitu, gak nyangka ih.“. Sebuah ending rumit yang tidak bisa ditebak.

Buku ini sebenarnya buku lama, saat buku ini terbit pertama kali saya mungkin masih SMP. Baru di 2015-2016 novel ini naik lagi dan sudah diterjemahkan ke-28 bahasa dan mendapatkan penghargaan ‘World Readers’ tahun 2016.

Kurang lebih seminggu yang lalu saat memposting perkembangan membaca buku ini di Goodreads yang juga muncul postnya di facebook, seorang sastrawan Gorontalo bang Jamil Massa mengajak untuk membuat klub buku untuk berdiskusi tentang buku ini. Saya sangat tertarik, pertama saya tidak pernah menghasut diskusi tentang buku sebelumnya, yang kedua saya ingin melihat padangan para pembaca lain tentang buku ini, apakah pandangan saya sama dengan yang lain. Semoga tidak ada halangan…

Ah semoga di diskusi nanti saya bertemu dengan si Cantik…

Iklan

Abis baca-baca gak mau komentar dulu nih? Sinilah.. diskusi kita. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: