Penikmat Gratisan

Saya adalah orang yang paling gampang terpengaruh oleh gerakan-gerakan baik. Gerakan-gerakan kayak #SaveShark, itu saya dukung banget. Walaupun saya gak pernah lihat hiu selama hidup. Lihat gajah atau harimau saja belum pernah, di tempat saya gak ada kebun binatang. Tapi saya dukung karena banyak orang baik yang dukung.

Gerakan baik lainnya adalah soal lawan pembajakan. Kalo soal ini saya bisa memahami kerugiannya untuk para kreator. Tapi kalo dipikir-pikir saya sampai sekarang masih menikmati karya bajakan, masih suka cari yang gratisan daripada beli. Saya kadang download ebook bajakan, masih pakai aplikasi bajakan di smartphone dan windows bajakan di laptop.

Pahami kontradiksinya, di satu sisi kalian mendukung hal baik agar para kreator bisa hidup dari karyanya, tapi di sisi lain kalian butuh itu tapi tidak punya kemampuan untuk membelinya. Jadi pakai bajakan, batin bergejolak loh…

Bill Gates suatu waktu dalam ceramahnya di suatu forum pernah bilang, “Saat ini di Cina 100% software yang mereka pakai adalah bajakannya microsoft. Kami tau itu, dan kami biarkan. Tidak ada yang bisa kami lakukan pada saat ini. Yang kami mau adalah, kalau mereka akan menggunakan bajakan, lebih baik bajakan kami. Sehingga microsoft ada di top of mind mereka, dan mereka terbiasa menggunakan produk kami. Kelak ketika ekonomi mereka menguat,mereka akan teredukasi dengan sendirinya dan siap menggunakan produk asli. Kala itu datang, kami akan siap”.

Nah kalo dipikir-pikir tanpa bajakan saya tidak akan kenal Raditya Dika. Saya tidak akan tau apa itu blog, blog ini tidak ada, dan tulisan ini juga tidak akan ada. Dulu Gramedia di tempat saya belum ada, pilihan buku di toko-toko buku belum banyak, paling banyak ya buku pelajaran. Buku Raditya Dika mana ada….

Beruntunglah ada internet, saya mendownload buku-buku Raditya Dika bentuk eBook berformat .djvu. Tak tanggung-tanggung 5 bukunya dan 2 buku komik kambing jantan saya baca dengan cara ilegal (download).  Tapi seperti kata Bill Gates, microsoft ada dalam top of mind masyarakat China karena menggunakan bajakannya, Raditya Dika pun ada dalam top of mind  saya dalam berkarya, ketika saya sudah mampu secara ekonomi untuk membeli karya-karyanya, saya sudah berhenti mengkonsumsi bajakannya, saya beli buku-buku aslinya dan menonton filmnya langsung di bioskop.

Apakah sekarang saya tidak lagi pakai bajakan? hmm.. teteuup lah. Windows saya masih bajakan, beberapa aplikasi di smartphone juga masih bajakan. Tapiii suatu saat ketika saya mampu untuk membeli ORI nya, saya akan beli karena memang butuh aplikasinya.

Saya paham tentu bajakan atau gratisan ada kekurangannya, salah satunya kita jadi tidak terlalu menghargainya. Misalkan kita pasti pernah mendownload eBook-eBook gratis di internet tapi belum semuanya dibaca, tersimpan aja gitu di laptop dengan folder eBook. Kalo ada laba-laba virtual mungkin foldernya sudah banyak sarang laba-labanya. 😀

Soal bajakan dan gratisan saya punya rekomendasi bacaan. ini ebook judulnya Menghargai Gratisan karya Pandji Pragiwaksono. Bacaan singkat, hanya 50 halaman. Di ebook ini Pandji bercerita tentang dia yang pakai barang bajakan, lalu beralih ke yang berbayar karena sadar setelah dia berkarya dia juga gak mau karyanya dibajak karena dia hidup dari karya itu.

Ebooknya bisa di downoad disini –> pandji.com/Menghargai_Gratisan

 

Iklan