Antar Antar: Sampai kapan akan mengantar?

Dulu sempat kepikiran, mungkin lucu kali ya kalau ada Bentor (Becak Motor) Online. Itu lucu karena saya pikir tidak mungkin ada dan saya  juga tidak paham bagaimana cara operasinya nanti. Hingga kemudian muncul GoJek yang juga sebenarnya lucu. Teknologi dan Ojek adalah perpaduan yang lucu.

Yansen Kamto (CEO KIBAR) pernah bilang ide GoJek Nadiem Makarim (CEO GoJek) adalah hal gila. Bagaimana bisa seorang tukang ojek disuruh menggunakan teknologi berbasis aplikasi. Janganlah soal teknologinya, penggunaan smartphone saja bagi mereka mungkin akan membingungkan.

Dan ide ojek online benar-benar gila hingga mengantarkan GoJek sebagai Startup Unicorn pertama di Indonesia dengan nilai valuasi lebih dari satu milyar dollar! Belum lagi layanan GoJek yang terus bertambah mulai dari Go-Food, Go-Car, Go-Clean dan masih banyak lagi. Yang teranyar dan menurut saya akan jadi besar adalah layanan Go-Pay mereka, layanan online payment yang bisa saja akan sebesar Alipay milik Alibaba.

Kembali lagi ke Bentor Online, hal lucu itu akhirnya terwujud tanggal 7 Januari 2017 kemarin. Mereka hadir dengan nama Antar-antar dengan slogan One App for All Need. Aplikasi ini mempunyai beberapa layanan disamping mengantar penumpang seperti antar makanan, antar belanjaan dan antar laundri. Tapi saat ini yang baru beroperasi adalah mengantar penumpang dan antar makanan.

Walaupun sudah lama tahu dan lihat promo-promo mereka di sosmed, saya belum pernah sekalipun memakai layanan mereka. Ini soal gak enakkan sih, kantor saya yang sekarang sebelum saya masuk juga sudah memproduksi aplikasi serupa dan sudah launching sebelum Antar Antar jalan. Hanya saja karena pengelolaannya ada pada pemerintah daerah, entah bagaimana kabarnya sekarang.

Tadi pagi akhirnya saya mencoba aplikasinya. Yah karena penasaran saja, sekalian ingin diskusi juga dengan drivernya. Aplikasi Antar Antar bisa di unduh di Google Play, saya kurang tahu apakah juga sudah ada di App Store atau belum. Ukuran aplikasinya sendiri tidak terlalu besar kurang dari 10 Mega dan tidak memakan RAM yang banyak, saya pernah menginstallnya pada smartphone yang RAMnya dibawah 1 GB dan berjalan lancar.

Screenshot_2017-03-10-20-12-33

Awalnya saya pikir aplikasi ini bukan dibuat oleh developer lokal karena saya kurang menemukan khas kedaerahan pada aplikasinya selain bentor itu sendiri. Tapi setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata ini asli buatan anak Gorontalo.

Screenshot_2017-03-10-20-12-21
Tampilan awal Apps dan layanan-layanannya

Saat ini layanan yang tersedia adalah Bentor dan Antar Makanan. Layanan aplikasi Antar Makanan juga baru mulai bisa digunakan tanggal 7 Maret 2017 kemaren.

Screenshot_2017-03-10-20-31-57

Di awal peluncurannya mereka mempunyai 20 driver, saya tidak tahu sekarang jumlahnya berapa tapi saat saya memesan Bentor untuk ke kantor, kurang dari 1 menit saya langsung di pick up oleh seorang driver.

Tidak butuh waktu lama, mungkin karena drivernya dekat dengan rumah saya. Saya pun langsung menunggunya di depan jalan. Hingga drivernya datang, agak sulit sebenarnya untuk mengenalinya, karena yang pertama drivernya tidak memakai atribut Antar Antar dan plat nomor bentor biasanya hanya ada di bagian belakang jadi tidak langsung terlihat. Saya mengenali drivernya dari senyumnya yang manis. #halah

Screenshot_2017-03-10-09-16-11
(((Pemesanan Beralangsung)))

Dalam perjalanan sepanjang 2 kilometer itu saya sempat ngobrol sedikit dengan pak Zainudin (driver bentor). 10 Menit ngobrol kita udah tuker-tukeran nomer whatsapp, ID LINE dan Akun BIGO Live. Sekarang kita makin dekat dan mutusin buat pacaran.

…………..

HAHAHAHAHA

GAK DENG!!

Pak Zainudin ini ternyata baru seminggu daftar jadi Driver Antar Antar dan selama seminggu ini dia baru dapat 10 penumpang lewat aplikasi. Waktu ditanya kenapa dia gabung di Antar Antar katanya karena menarik dan berharap bisa nambah penghasilan.Ya walaupun dia sempet curhat sih, katanya karena tarifnya udah ditentukan sebelum perjalanan kadang dia agak rugi. Perjalanan yang biasanya tarifnya segini di aplikasi malah jadi segitu.

Salah satu juga yang di ‘curhatkan’ pak Zainudin adalah pengguna aplikasi yang katanya makin berkurang. Saya tidak tahu itu benar atau tidak karena tidak memantau juga. Tapi yang pasti mencari bentor di Gorontalo bukanlah hal yang sulit, tinggal berdiri di tepi jalan maka para driver bentor akan menghampiri dan berkata “mo kamana?”

Screenshot_2017-03-10-19-11-46
5 Bintang untuk Pak Zainudin

Perjalanan singkat itu berakhir, saya memberikan uang Rp10.000 ke pak Zainudin. Iya… tarifnya memang hanya Rp6.000. Sisanya tip untuk pak Zainudin karena dia ngasih saya akun BIGO Livenya dan kapan dia sering “Show”. #NahLoh! 🙈🙈🙈

Sampai kapan akan meng ‘Antar Antar’?

Startup berbasis aplikasi dengan layanan on demand seperti Antar Antar ini sangat bergantung pada pengguna. Jika Antar Antar tidak bisa menarik pengguna untuk menggunakan layanannya maka Antar Antar harus siap bersaing dengan startup besar seperti Gojek atau Grab. Gojek saat ini sudah masuk ke daerah tetangga Gorontalo yaitu Manado. Yah… mungkin 2-3 tahun lagi mereka juga akan masuk ke Gorontalo, siapa yang tahu. Dan sampai waktu itu tiba orang akan memilih GoJek atau Grab yang memang sudah punya ‘nama’.

Tugas besar Antar Antar sebenarnya adalah mengakuisisi konsumen baik itu pengguna dan driver. Dari segi pengguna Antar Antar harus bisa mengsosialisasikan lagi soal perbedaan tarif antara pakai bentor online dan bentor biasa. Selain itu menurut saya harus ada yang bisa membedakan bentor online dan bentor biasa sehingga pengguna bangga menggunakan bentor online. Contohnya atribut Antar Antar.

Saya kurang tahu apakah memang ada instruksi untuk tidak memakai atribut Antar Antar dari manajemennya karena takut timbul pergolakan di kalangan bentor konvensional atau tidak, yang pasti atribut adalah sarana yang tepat untuk iklan mengsosialisasikan bahwa Antar Antar pemesanan bentor secara online sudah ada di Gorontalo.

Untuk menarik para driver agar mau bergabung ke Antar Antar juga penting, tanpa driver tak ada layanan. Ini sebenarnya tugas besar, seperti halnya teknologi dan ojek, teknologi dan bentor juga hal lucu lainnya. Tidak semua driver bentor punya smartphone, kalo melihat Gojek di awal sepertinya mereka memberikan fasilitas smartphone ke drivernya. Antar Antar mungkin bisa mencoba itu. Butuh modal memang, layanan on demand seperti ini memang butuh modal besar untuk akuisisi konsumen.

Saya sebenarnya agak kaget karena ternyata driver bentor berbeda dengan driver pada layanan Antar Makanan. Untuk antar makanan yang dipakai adalah motor, bukan bentor. Padahal layanan antar makanan bisa jadi pendapatan lebih untuk driver bentor. Kalau saja layanannya bisa untuk para driver bentor mungkin banyak driver yang akan bergabung.

Antar Antar jika ingin bertahan harus mempunyai ekosistem yang baik, membangun hubungan baik dengan para driver dan pengguna. Memberikan nilai lebih agar punya tempat di masyarakat sehingga akan bergantung pada Antar Antar untuk aktifitas kesehariannya.

Selain itu untuk sebagian besar masyarakat Gorontalo layanan on demand seperti Antar Antar adalah hal baru. Antar Antar juga harus mulai mengedukasi masyarakat soal penggunaan teknologi informasi. Antar Antar harus menjadi solusi kesemrawutan bentor di Gorontalo.

Pernah ada startup Gorontalo yang layanannya mengantar makanan tapi kemudian hilang, entah menutup layanannnya atau sedang rehat untuk pivot. Dunia startup memang kompetitif, yang kuat yang bertahan, yang diterima yang bertahan. Pertanyaannya sampai kapan Antar Antar akan mengantar?

Iklan

2 thoughts on “Antar Antar: Sampai kapan akan mengantar?

Add yours

  1. Mempertahankan, atau bahkan mengembangkan startup memang bukan perkara mudah. Apalagi bentor yg jelas-jelas sudah menjadi pesaing gojek/grab, meskipun beda armada tapi layanannya sama. Kalau ‘parkir bus’ mungkin bisa, tapi untuk berkembang, akan sangat sulit. Apalagi belum-belum driver sudah mengeluhkan soal perbedaan tarif, kalau hal ini tidak diperhatikan, bisa buyar.

    Soal atribut bagus sih, dari segi promosi, atau yg kamu sebut ‘kebanggaan menggunakan bentor online’, tapi kan situasi di negara kita masih gawat sob, soal online-konvesional yg terus rame. Keputusan tidak menggunakan atribut dulu kayaknya tepat. 🙂

Abis baca-baca gak mau komentar dulu nih? Sinilah.. diskusi kita. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: