Gak mikir.

“Gimana kerja disana, betah?”  Tanya tante saya tadi pagi sebelum beliau berangkat ke kantor.

Hari ini tepat 2 minggu saya bekerja di kantor baru dan job baru saya sebagai training officer. Saya bekerja di salah satu perusahaan startup, perusahaan ini tidak hanya mengembangkan aplikasinya sendiri tapi juga mengurus web dan aplikasi di beberapa kantor pemerintah. Selain itu mereka juga membuka kelas pelatihan-pelatihan web, koding dan sejenisnya, nah tugas saya ngurus pelatihannya itu.

Dua minggu kerja sebenarnya saya masih canggung. Padahal kalau mau dibilang, karena ini perusahaan startup jadi sebagian besar karyawannya masih muda, rata-rata umurnya 20an lah. Tapi tetap saja sebagai seorang introvert garis keras, saya agak kesulitan untuk bersosialisasi. Belum lagi beberapa dari mereka memanggil saya ‘Pak’, tambah awkward lagi kan.

Soal pekerjaannya sendiri saya masih beradaptasi, ngurus hotel, nyusun jadwal dan segala persiapan untuk training adalah hal baru bagi saya, tapi okelah. Kalo udah sering lama-lama jadi jago.

Waktu kerja gak masalah, cuma emang kadang suka gak enak pulang duluan. Waktu kerja bagian Officer sebenarnya hanya sampai pukul 5 sore. Tapi beberapa ada yang tinggal sampai malam. Belum lagi para programer yang yang jam kerja mereka bisa sampai pagi. Jadi pas pulang, kantor masih rame. Saya tidak masalah dengan lembur, hanya saja kalau memang tidak ada pekerjaan yang mendesak saya pilih pulang, karena di rumah pun saya masih harus kerja di percetakan milik Om saya. Yah kalo di total sehari saya kerja 12 jam.

Kerja sehari 12 jam ada untungnya juga, saya jadi gak punya waktu mikirin penistaan-penistaan agama, mikirin Ahok, mikirin Habib Rizieq dan mikirin si mantan Presiden Baper. 

Iklan