DILAN BERENGSEK!

Oke… saya tau apa yang kamu pikirkan. Pikiran-pikiran menyindir seperti “Yaelah bro… kita udah baper dari kapan tahun, situ baru sekarang.” atau “Telaaat bray….Milea udah punya cucu.”.

Pertama kali saya dengar soal buku ini adalah 2014. Saya ingat waktu itu panas-panasnya pilpres dan saya sedang sedikit berdebat dengan seorang kawan. Tiba-tiba dia ngechat “Rick, coba deh baca tulisannya Pidi Baiq”. Karena gak ngeh, kirain masih bahas pilpres langsung saya jawab “Tentang Prabowo yang suka culik-culik?”. “Bukaaaaannnnn, itu bukunya yang Dilan”. Karena penasaran saya langsung Googling dan ternyata itu hanya sebuah Novel. Novel doang…. biasa aja.

Beberapa bulan lalu saya menemukan quote-quote dari buku itu. Mulai tertarik, saya pun baca beberapa review para bloger tentang buku Dilan. Kok kayakanya bagus ya. Baca lagi review-review di Goodreads. Duh… keren nih. Mulailah berburu buku. Dapat di BukuKita.com, dijual sepaket harganya agak mahal. Mikir dua kali, beli sepaket… gimana kalo bukunya gak bagus-bagus amat. Selain itu saya juga jarang beli novel cinta-cintaan. Apalagi kisah cinta anak SMA.

Promo menarik saya dapat di Grobmart.com saat Harbolnas kemaren, sepaket buku Dilan dijual dengan diskon 40%. Gak nunggu lama, saya putuskan untuk membelinya. Saya tambah suka setelah menonton teaser novelnya. Kiriman novelnya sampai tanggal 31 Desember 2016, tepat akhir tahun dan novel itu jadi alasan kenapa saya lebih pilih di rumah daripada merayakan malam tahun baru.

Pekan pertama awal tahun ini saya habiskan dengan membaca buku Dilan. Setelah itu saya sampai pada kesimpulan bahwa DILAN BERENGSEK!

keroyok-aniaya

Pertama, Dilan menaikkan standar bagaimana seorang lelaki mendekati seorang wanita. Tidak semua lelaki seromantis Dilan, tidak semua lelaki sehumoris Dilan, TIDAK SEMUA LELAKI BISA SEPERTI DILAN!

Saya takutnya para wanita yang membaca buku ini jadi terinspirasi dan mencari pasangan yang harus sama seperti Dilan. Terus gimana dengan saya yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan doyan nonton Descendants of the Sun?

Kedua, pokoknya dilan berengsek lah.

Saya suka. Suka sekali novelnya. Entah kenapa. Padahal saya bukanlah pembaca novel cinta-cintaan seperti ini.  3 seri bukunya membuat saya repaB. Ehem. Eh gak lah. Biasa aja. Cuma dikit bikin baper. Dikit. Dikit banget. Saya mah gak pernah baper. Iya.

Saya ingin sekali menulis review buku-buku itu, tapi sepertinya agak basi, saya pun tak pernah mereview novel percintaan sebelumnya. Jadi saya akan mereviewnya dengan emoji. πŸ˜€

wp-1484131904772.png

Dilan – Dia adalah Dilanku tahun 1990:

😐 – 😏 – 😢 – 😁 – πŸ˜€ – 😍

wp-1484132130541.png

Dilan – Dia adalah Dilanku tahun 1991:

πŸ˜™ – 😘 – 😞 – πŸ˜“ – πŸ˜’ – 😒

wp-1484132138132.png

Milea – Suara dari Dilan:

☺ – πŸ™‚ – 😊 – 😏 – πŸ™‚ -☺

Saya beruntung tidak digantung oleh novel ini. Maksudnya buku pertama terbit 2014, buku kedua terbit 2015 dan buku terakhir terbit 2016, saya tidak harus menunggu tiap tahun untuk membaca kelanjutan kisahnya. Hahaha. Saya mah orangnya gak sabaran. gak suka digantungin gitu. uhuk.

Denger-denger buku ini mau dibuat filmnya. Saya sih antara setuju gak setuju. Gak setuju karena saya yakin banyak pembaca yang imajinasinya buyar. Orang-orang punya imajinasinya tersediri tentang sosok Dilan atau Milea. Saya setuju-setuju saja asalkan pemeran Dilannya bukan Reza Rahardian. Ketuaaaannn. Minimal Reza ‘arap’ Oktavian lah. Nakal tapi tampan. Boom.#eh

Iklan