Setidaknya ada Eka Kurniawan

Hari Buku Nasional udah ancang-ancang mau borong buku karena pasti di hari itu banyak diskonnya. Cari info sana-sini berapa persen kah diskon yang diberikan toko buku. Sampai akhirnya nemu info diskon 20% di Gramedia tapi berlakunya hanya di Hari Buku Nasional. Ada diskon 30% berlaku untuk 3 hari untuk pengguna kartu debit/kredit BNI. Maka ngiler lah saya…๐Ÿ˜„

Saya memang punya kartu debit BNI, walaupun saya tipe orang yang suka menabung di Bank.Tapi saya butuh itu untuk membayar domain blog, belanja online (beli buku online maksudnya) dan mudahin orang kalo ada yang mau transfer uang atau siapa tau ada yang salah transfer uang 2M ke rekening saya. Ya siapa tau, pulsa aja bisa salah transfer. ๐Ÿ˜

Kemarin saya ke Bank karena saldo rekening memang kosong. Gak kosong-kosong amat sih, kalo kosong rekening saya bisa dihapus. Setidaknya ada saldo untuk biaya pemotongan perbulan dari Bank. Saat di Bank saya sudah merasa ada yang tidak beres, tidak seperti biasanya hari itu saya tidak perlu antri. Masuk ambil nomer antri tapi langsung disuruh ke teller. Cepat, 5 menit selesai.

Ke toko buku, kok sepi juga. Banyakan karyawannya daripada pengunjung. Maka benarlah survey salah satu lembaga PBB bahwa minat baca di Indonesia ini sangat kurang. Hanya ada 1 dari 1000 orang yang konsisten membaca buku tiap bulannya. Sedih.

Toko buku bagi saya adalah surga walaupun kalo kata Aan Mansyur surga yang sebenarnya itu adalah perpustakaan karena di toko buku kita dinilai berdasarkan isi dompet. Ya, toko buku adalah surga yang mahal, tidak cukup punya minat baca, anda juga harus punya uang. Makanya datang ke toko buku adalah hal mewah bagi saya, saya menikmati momen saat berada di tengah puluhan ribu buku.

Tak terasa sudah 1 setengah jam saya berkeliling di toko buku, tadinya masih mau lamaan dikit, tapi saya sudah risih dengan penjaganya yang selalu menawarkan buku yang tidak saya suka. Saya tidak tahu apakah di toko buku lain juga seperti itu, petugas tiba-tiba datang dan bilang ‘buku ini bagus, keluaran terbaru’, ‘ini buku motivasi, bagus’. Saya selalu menjawab dengan ‘tidak, terima kasih’. Awalnya saya pikir para penjaga ini bermaksud ramah dan merekomendasi buku bagus yang mungkin sudah mereka baca. Bagi saya keren loh, kalo ada orang yang suka baca buku dan juga kerja di toko buku. Artinya dia seorang pecinta buku. Sampai akhirnya saya lihat salah seorang dari mereka sedang mengatur buku di rak dengan agak kasar seperti sedikit melempar hingga raknya berbunyi. Orang-orang ini tidak cocok kerja di toko buku, mereka bukan pecinta buku. ๐Ÿ‘ฟ

Risih melihat itu, seorang penjaga tiba-tiba datang lagi menawarkan buku ‘Ini novel terbaru dari Gramedia’. 3 kali ditawarkan seperti itu saat sedang mencari buku incaran, saya kesal dan memutuskan langsung ke kasir saja, momen bersama puluhan ribu buku dirusak oleh keramahan yang mengganggu. 4 buku tebal, Madilog – Tan malaka, O – Eka Kurniawan, Critical Eleven – Ika Natassa dan sebuah buku biografi Andi F. Noya sudah ditangan.

Di kasir saya jadi paham kenapa mereka selalu menawarkan buku, udah gitu buku yang ditawarkan adalah buku tebal dengan harga lebih dari Rp.100.000. Sepertinya di tiap buku yang terjual, panjaganya akan mendapatkan fee, entah berapa persen tapi saat di kasir para penjaga tadi ‘berebut’ menulis nama dan judul buku yang saya beli. Saya tidak mempermasalahkan soal fee-fee mereka ya, itu urusan perusahaan mereka. Hanya saja saya berharap jangan sampai keinginan mendapatkan fee dari buku yang dibeli malah mengganggu pelanggan.

Kesiyalan mulai terjadi saat kartu debit saya tidak bisa di proses oleh mesin geseknya. berkali-kali dicoba tetap tidak bisa. Sudah 10 menit saya menunggu tetap saja tidak bisa di proses. Saya disarankan untuk mengambil saja uang di ATM, tapi tidak dapat diskon 30% itu. Sedih saya. Saya pun ke ATM dan coba mengambil uang. Kagetnya saya lihat saldo di ATM tinggal 60 ribu!!! LAH KAN BARU DIISI SALDONYA!!!

Tak mau menunggu lama saya putuskan tidak membeli 3 buku lainnya dan hanya membeli buku O – Eka Kurniawan. Saya ingin bergegas karena ingin kembali ke Bank untuk menanyakan kenapa tiba-tiba saldo saya berkurang. Karena kalo misalkan ada transaksi pada rekening saya akan mendapatkan SMS dari Bank bahwa saya sudah mentrasfer atau menerima uang sekian. Nah sekarang tidak ada. Tiba-tiba aja gitu berkurang.

Kesiyalan berikutnya ternyata Bank sudah tutup! Okelah saya coba cek lagi saldo lewat ATM di Bank. Siyal lagi. ATM nya lagi rusak. Yawla, aim capek

Sampe rumah saya masih kepikiran, gak rela uang sebesar Rp. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx hilang tanpa tau kemana. Langsung DM Twitter Banknya, curhat dan langsung dibales “mohon maaf atas ketidaknyamananya, untuk lebih jelas hubungi call center agar bisa di cek transaksinya.”. Lagi kesel, diam dikit, minum air dan langsung baringan di kasur. Di keheningan itu saya tiba-tiba terpikir.

POTONGAN ASURANSI!!!!

Saya ingat punya asuransi yang emang didebet secara otomatis tiap bulannya. Langsung saya ambil buku dan pulpen dan coba ngitung-ngitung. PAS! Uangnya ilang sejumlah biaya asuransi saya tiap bulannya. Saya tertawa kecil. Lega karena uangnya bukan ilang secara misterius, tapi karena biaya asuransi. Saya sejak akhir tahun lalu memang ikut asuransi, pikiran saya saat itu saya belum punya perlindungan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Maksudnya saat ini saya tinggal dengan Om dan Tante, kalo saya sakit saya punya BPJS dan Asuransi untuk menanggulangi itu. Pikiran awal saya itu dulu. Gak mau ngerepotin orang lain.

Ya.. agak sedih juga gagal borong buku, tapi lumayalah bisa ditemani Eka Kurniawan dengan novel “O” nya. Penulis yang lagi hits banget gak cuma di Indonesia tapi luar negeri. Saya ingin berkenal dengan karya-karyanya. Dimulai dari “O”. ๐Ÿ˜€

13188163_1217577821586688_1660885237_n

“O” – Eka Kurniawan

 

Iklan