BLOGGER KOTA VS BLOGGER DAERAH

Saya pernah bilang di salah satu grup whatsapp blogger, enak ya tinggal di kota besar, tiap minggu pasti ada aja event untuk Blogger dari brand-brand terkenal. Kadang iri juga, dengan banyaknya event berarti mereka jadi punya banyak bahan tulisan dan memperkenalkan event keren di daerahnya. Blogger kota sudah masuk ke permasalahan diundang berbayar atau diundang cuma dapet totebag, sedangkan Blogger daerah bergelut dengan pertanyaan “eventnya mana?????“.

Ternyata kesenjangan tidak hanya ada pada pembangunan daerah, masalah blogger-blogger ginian juga ada kesenjangannya, ada perlakuan yang berbeda. Tadinya saya pikir brand-brand besar itu gak mau datang buat event di  daerah-daerah atau mengsupport event di daerah karena kota-kota kecil bukanlah pasar yang bisa memberikan dampak positif ke produknya atau produknya kurang diminati di daerah itu. Tapi bukankah dengan mengsupport event daerah adalah cara yang baik untuk memperkenalkan produknya? Hmmm. 🙈

Brand-brand besar itu sangat butuh publikasi dan di kota-kota kecil publikasinya sangat kurang, katakanlah Jakarta, mereka bisa mengundang wartawan media cetak dan media online, mengundang blogger, selebtweet,  youtuber dan instagramer (eh sebutannya apa deh!). Bayangkan dalam satu event ada berita dari media, artikel dari Blogger, livetweet dari selebtweet, vlogg dari youtuber dan selfie dari Instagramer. Banyak. Jika dibandingkan dengan daerah saya, media cetak yang eksis cuma 2, online cuma 5 kayaknya, blogger ada sih tapi tersebar. Udah gitu. Jarang nulis. Kalo instagramer sih buanyaaakk tapi isinya selfie semuanya. Brand-brand besar mana mau bikin event, belum lagi kalo dimintain duit. Tekor.

Di tempat saya bukannya gak ada event sama sekali, seperti bulan februari kemarin kami buat Festival Jomblo, event yang menarik tapi kurang publikasi, media-media online nasional (kompas, detik)  sempet sih membahasnya, cuma dari masyarakat yang hadir lebih memilih mengabadikan moment pribadinya, bukan mengabadikan acara itu. Harus diakui minat menulis sangat kurang.

Saya dan beberapa teman sedang coba menghidupkan lagi komunitas blogger daerah, dulu sempat ada komunitasnya tapi sekarang tak terdengar lagi kabarnya. Kami sudah mengumpulkan beberapa blogger dan beberapa kali sempat kopdar. Sayangnya lagi beberapa blogger ini jarang nulis, entah mau dibilang sedang hiatus atau mereka membuat blog hanya karena iseng. Tapi ini modal bagus, setidaknya mereka pernah menulis.

Media tulisan sangat tepat untuk mempromosikan daerah, saya berharapnya masyarakat Gorontalo mau menulis dan memposting fotonya mengenalkan daerah ini melalui blog daripada di sosial media, karena seperti foto-foto di instagram tidak dapat di index oleh Google, sedangkan jika ada yang ingin tahu informasi tentang suatu daerah mereka pasti akan mencarinya lewat Google.

Awal tahun ini Pemerintah Provinsi Gorontalo meluncurkan calender of event Gorontalo selama 2016, ada 4 festival besar yang diharapkan bisa menarik wisatawan. Untuk mendukung event-event ini, Gorontalo berani menetapkan target tinggi sebanyak 3.874 turis asing dan 96.026 pergerakan turis domestik, sedangkan pencapaian tahun 2015 menembus 100 turis asing dan 296.217 turis domestik.

Tiga potensi yang dimiliki Gorontalo yakni culture, nature dan manmade menjadi kekuatan utama demi mendatangkan turis ke Gorontalo. Bahkan, Gorontalo telah ditetapkan sebagai provinsi kota adat ke-9 dari 19 kota adat di Tanah Air.

Hal ini tentu menjadi momentum yang baik jika didukung oleh semua pihak termasuk para Blogger sebagai corong informasi, karena dibandingkan media online, blogger bisa memberikan informasi yang lengkap tentang suatu event atau destinasi wisata daerahnya. Dukungan pemerintah bagi para blogger juga diperlukan, daripada buang-buang uang untuk iklan di TV atau koran yang saya heran selalu yang ditampilkan kepala daerahnya bukan wisatanya. Contohnya saja baliho-baliho iklan wisata, pasti ada foto Gubernur/Walikota/Bupati, emangnya wisatawan datang buat lihat kepala daerahnya?? Kalo kepala daerahnya termasuk makhluk purba sih gak apa-apa. Bisa jadi tontonan. *eh 🙊

Kedepan juga gak perlu ada penyebutan blogger kota dan Blogger daerah, karena kota pun sebutannya juga daerah. Contohnya Provinsi DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta. 😝

Iklan

11 thoughts on “BLOGGER KOTA VS BLOGGER DAERAH

  1. Kadang pusing juga ya mas kalau nggak ada event, bahan buat nulis pun jadinya kurang.

    Setuju sekali, di tempat saya juga gitu. Baliho besar, gambarnya bupati dan wabup dengan latar belakang pantai. Hikz..

  2. Apalagi saya yang “hanya” tinggal di kota kabupaten HST: Barabai, provinsi Kalimantan Selatan. Event blogger adalah acara langka yang bisa saya temukan di sini.

Abis baca-baca gak mau komentar dulu nih? Sinilah.. diskusi kita. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s