Bagaimana jika…

πŸ‘¦ :Β  Bro, jangan mau temenan sama Owo. Denger-denger dia Homo loh!
πŸ‘¨ : Oh ya?! Si Owi anak pengkolan juga katanya Homo! Ihh kan dosa!
πŸ‘² : Kalo kalian gak mau berteman dengan mereka karena mereka bikin dosa, berarti gak ada yang mau temenan sama kalian dong. Kan kalian pasti pernah bikin dosa. Gimana sih. πŸ˜’
πŸ‘¨ : Apaan sih cina! Diam aja loo…
πŸ‘³ (Om teroris) : Sabar koh. Orang Indonesia emang suka gitu. Saya kemaren ngeBom aja mereka pada gak takut, giliran Internet lemot pada marah-marah ke Menterinya.😩

image

Bayangkan situasi ini, kalian yang straight terkurung dalam lift bersama seorang gay. Bagaimana perasaan kalian? KebanyakanΒ  dari kalian pasti gak akan tenang karena kepikiran bakal di grepe-grepe atau di lecehkan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kadang lucu aja kalo ada yang bilang Gay itu penyakit menular. Jadi orang takut deketan sama Gay karena takut ketularan suka sesama jenis. Jadi misalkan ada cowok ‘normal’ yang temenan sama gay terus seminggu kemudian dia jadi gay dan udah punya pacar cowok ganteng. Kalo itu mah bukan gay nya yang menular, emang bakat jadi gay aja. Hahaha nah pas di komunitas yang tepat baru ketemu pasangannya. Kalo emang suka cewek ya gak bakal berubah jadi suka cowok.

Tulisan ini bukan sebuah pembelaan dan pembenaran LGBT, saya saja masih belum kepikiran bagaimana jika anak saya nanti (dengan Raisa atau Isyana atau Pevita, hmm Nabilah aja deh) menjadi seorang gay. Saya bukan orang yang berpikiran terbuka seperti itu. Saya juga pasti akan menolak jika pernikahan sesama jenis dilegalkan di Indonesia sama seperti di Amerika. Saya juga tidak suka kalo ada pasangan sesama jenis yang pamer kemesraan di media sosial, bahkan yang pacaran saja saya gak suka. #JombloBersatu. Hanya saja saya tidak terima jika ada orang yang diperlakukan tidak adil hanya karena dia berbeda. Entah beda agama, suku, jenis kalamin. Saya punya teman yang lesbian, teman SMP saya, pasangannya pun masih teman SMP saya. Kalo teman gay, sepertinya punya hanya saja saya kurang yakin dia gay. Hahaha. πŸ˜‚

Saya tidak pernah bergaul di lingkungan LGBT, tapi kalau suatu hari nanti saya ketemu dengan seorang gay, saya tidak perlu berpikir yang macam-macam karena pasti saya yang gak tampan, pendek dan sedikit kembung ini bukanlah selera mereka. Hahaha. Mereka pasti pilih yang tampan, jadi kalo ada yang jelek gak usah parno lah ketemu gay, lu bukan seleranya. 😁

Yang menarik dari pembahasan LGBT akhir-akhir ini di Media Sosial adalah pertanyaan Menristekdikti soal LGBT:

Seakan-akan yang boleh ‘mesum’ di kampus hanyalah yg ‘normal’, yang LGBT dan Jomblo (Yaiyalah..mau mesra-mesraan sama siapa) dilarang menunjukan kemesraan. Belakangan pak Menristekdikti mengklarifikasi pernyataannya. Tapi sepertinya FPI udah bertindak.

image

Mereka di usir hanya karena mereka berbeda. Lagi-lagi terlepas soal perdebatan LGBT, mereka tidak pantas diperlakukan seperti itu, bagaimana jika itu teman kita, saudara kita. Bagaimana jika yang diusir adalah para Jomblo…. bagaimana jika kaum Jomblo tidak terterima lagi di negeri ini.

Posted from WordPress for Android

Iklan

14 thoughts on “Bagaimana jika…

Add yours

  1. Ehh iya gue juga mendukung anti diskriminasi sih. Tapi kata guru gue dulu, pas masih sekolah dia punya temen gay, dan anehnya mereka itu gak sama kayak paradigma orang-orang. Kalo yang dominan cowoknya mereka itu lebih peka, enak diajak ngobrol. Biasanya cowok yang cenderung feminim alias agak melambai biasanya malah paling seru & heboh dengan tingkah konyolnya. πŸ˜€

  2. Memang harusnya tidak diperlakukan seperti itu, tapi kita juga harus mengingatkan mereka akan fitrahnya, mengingatkan (jika mereka beragama Islam) apa yang mereka lakukan itu salah.

    Kalau kita membiarkan mereka melakukan seperti itu, seolah-olah kita mendukung mereka atas nama toleransi, padahal Allah melarang perbuatan seperti itu, maka kita pun akan dilaknat Allah. Kita wajib nahi munkar terhadap kesalahan atau kemaksiatan yang terjadi di depan mata kita. Mohon maaf ini pendapat saya sebagai seorang muslim, yang mempunyai kewajiban saling menasehati dalam kebaikan.

    1. “Jika mereka beragama Islam”?? emang agama lain membolehkan ya? kalo di Amerika yang melegalkan Pemerintah atau Agamanya? #Nanya

      Ada perbedaan mendasar antara mengingatkan dan menghakimi, banyak yang katanya mengingatkan tapi sebenarnya menghakimi. Contoh pengusiran ini adalah hal yang paling nyata. Tidak ada yang mendukung perbuatan mereka ini, termasuk orang-orang yang mencintai hartanya, gadgetnya juga adalah menyimpang. Saya paham apa itu toleransi dan kata toleransi bukan pembenaran atas perilaku mereka. saya bahkan tidak menulis kata toleransi di post ini (?).

      Harusnya tugas para pemuka agama untuk menyadarkan mereka, bukan malah diusir. Kalo semua yang berbeda diusir tugas pemuka agama hanya mengurus orang-orang baik dong. Orang baik mah gak perlu diurusin. hehe

      ini hanya pandangan saya juga sebagai orang yang masih belajar agama dan akan terus belajar agama. Orang yang percaya Islam tidak mengajarkan memusuhi orang-orang yang berbeda. πŸ™‚

      1. Maaf, tolong baca komentar saya yang pertama pelan-pelan. Di awal komentar, saya bilang : Memang harusnya tidak diperlakukan seperti itu, tapi kita juga harus mengingatkan mereka akan fitrahnya. Dalam komentar di awal tersebut jelas saya juga sudah tidak setuju mengenai pengusiran tersebut, tapi kita pun tidak hanya berdiam diri jikalau kita melihat ada yang berbuat hal tersebut di lingkungan kita.

        Lanjutan komentar saya juga kan jelas, kita harus mengingatkan mereka akan fitrahnya, tentu saja dengan baik-baik, karena pemahaman mengenai agama harus disampaikan dengan lemah lembut dan akhlak yang baik, supaya mereka mau mendengarkan kita, dan tidak antipati memandang ajaran agama.

        Mengenai tulisan jika mereka beragama Islam, karena saya umat Islam dan saya tidak mengetahui ajaran agama lain mengenai LGBT, dan saya tidak mempelajari agama lain. Jadi bisa saja ketika mereka saya ingatkan bahwa dalam Islam, LGBT itu salah, mereka bisa berucap bahwa mereka bukan beragama Islam dan dalam ajaran mereka itu tidak salah. Kalaupun ternyata LGBT itu dilarang dalam semua agama yang ada, apalagi seperti itu, maka kita harus semakin mengingatkan mereka terhadap kesalahan yang mereka perbuat.

        1. Lihat juga konteks tulisan ini, fokusnya soal saudara-saudara kita yg diperlakukan tidak adil. Soal perilaku mereka saya juga sudah tulis tidak bisa membayangkannya. Mungkin saya keliru membaca komentarnya. Hanya saja karena sudah melebar pakai “agama” maka saya menanggapi panjang. Hehe. Saya rasa ini bukan persoalan agama. Hubungan sesama jenis dari segi kesehatan pun tidak baik. Kita sudah sepemikiran soal penangannyanya jadi tidak perlu dibahas dan tak perlu melihat agama. Hehe: D

  3. Gue waktu liat ada berita di LGBT sampe didata gitu terus diusir juga kaget.. lebay banget, mendingan yang didata itu yang pada nongkrong di tempat esek2.. udah jelas maksiatnya. Lah itu sekedar tinggal di kampung aja gak boleh.

    Ah tapi namanya Indonesia.. mantan Presidennya sendiri aja sampe dijadikan tahanan politik, apalagi yang ‘cuma’ LGBT..

  4. Tapi ada benarnya juga sih kalo lingkungan bisa mengubah perilaku. EHE.

    Dan kalo suatu hari kaum jomlo diusir dari Indonesia, gue akan jadi jomlo, kali aja bisa diusir ke London. WKWK.

Abis baca-baca gak mau komentar dulu nih? Sinilah.. diskusi kita. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: