StandUp Comedy Academy bukanlah komedi cerdas

Sepertinya terakhir kali saya menonton Indosiar saat stasiun TV itu menyiarkan program PILDACIL, waktu itu yang menang Fathin. (loh?). Belakangan Indosiar mulai menayangkan Piala Presiden dan kompetisi Stand up Comedy Academy.

Sama seperti kebanyakan pencinta Stand up Comedy, awalnya pesimis dan Underestimate dengan program ini, karena yang banyak orang tau bahwa stand up comedy adalah komedi “cerdas” sedangkan Indosiar sepertinya kurang cerdas karena dulu berusaha agar kita mempercayai naga terbang lewat sinetron-sinetronnya, udah gitu saya sering nonton pula tiap pulang sekolah. 😑

Apalagi melihat host nya Gading, Andika dan Gilang yang juga host acara alay. Kayaknya bakal ancur nih acara karena mereka becandaannya suka ngata-ngatain orang, yang menurut para penikmat stand up Comedy bukan komedi “cerdas”. Saya harus akui program ini benar-benar menarik, setiap menitnya saya dibuat ketawa. Saya teringat program Mamamia dan beberapa acara lain di Indosiar dulu yang sempat dipandu Eko Patrio dan Ruben Onsu, bisa ketawa berjam-jam jika menonton itu.

Yang menarik adalah sosok dibelakang layar SUCA, program Stand Up Comedy bisa ada di Indosiar karena peran pak Indra Yudhistira, saya sudah membaca bukunya Iwel Sastra yang menceritakan bagaimana Indra Yudhistira memasukan segmen Stand Up Comedy di salah satu program TV, saya membaca buku Pandji Pragiwaksono yang menceritakan peran Indra Yudhistira dalam membuat program kompetisi Stand Up Comedy pertama di Indonesia.

image

24 Peserta, 3 Host, 5 Mentor dan 5 Juri
Cukup banyak talent dalam satu program TV, beruntung tayangnya 4 kali dalam seminggu, saya tidak bisa membayangkan jika tayangnya 1 kali seminggu, durasinya pasti akan sangat lama.

24 peserta yang ada untuk saya yang memang senang menonton Stand Up Comedy banyak di isi wajah-wajah lama, bahkan sudah bisa di duga mereka akan membawakan materi-materi lama, mengingat tidak ada tema yang ditentukan oleh pihak Indosiar di tiap shownya.

5 Mentor yang ada bukan orang baru dalam dunia Stand Up Comedy Indonesia (Kecuali bang Daned yang baru saya tahu lewat program ini), para mentor adalah orang-orang yang paham teknik dan sudah punya banyak jam terbang di stand up,belum lagi ada bang Arief Didu yang memang udah Stand Up sejak zaman VOC.

3 Host yang dari awal udah rame di twitter, banyak yang bilang mereka gak pantes jadi host Stand Up Comedy karena mereka biasa membawakan acara Alay dan takut Stand Up Comedy juga jadi acara Alay. Tapi melihat dari awal sampai akhir kompetisi, anggapan itu ternyata salah, Pengalaman Andika, Gading dan Gilang sebagai host selama bertahun-tahun justru yang menghidupkan program ini, mereka yang selalu membuat kelucuan sebelum dan setelah peserta tampil. Bahkan mereka bertiga juga ikut menjajal Stand Up Comedy dan menceritakan keresahan-keresahan mereka dan itu PECAHHH!!

5 Juri yang terdiri dari juri tetap dan juri tamu juga sangat menghibur, mas Eko Patrio yang memang pelawak senior selalu memberikan kelucuan, bang Abdel yang absurd dan bikin kesel, mbak Soimah yang menambah keseruan. Salah satu bukti bahwa program ini di dukung oleh para komika adalah hadirnya para pendiri StandUp Indo, Raditya Dika, Pandji, Ernest, Ishman, minus Ryan yang terlibat di program ini.

Satu hal juga yang menarik adalah debat-debat antara Juri dan Mentor, kami yang masyarakat awam seperti sedang belajar pengetahuan baru, pengetahuan tentang StandUp Comedy. Saya yakin untuk para komika baru atau yang mau belajar StandUp Comedy bisa belajar banyak dari program ini.

1 bulan lebih SUCA tayang, sudah cukup menghibur setelah lelah beraktivitas seharian, tertawa lepas, melupakan masalah sejenak. Banyak komentar yang bilang SUCA banyakan durasi komentarnya daripada durasi penampilan peserta, memang sih, tapi ada hal yang bisa kita ambil dari durasi yang panjang itu, bahwa para Komika tidak hanya lucu saat tampil tapi saat tidak tampil pun mereka tetap lucu, kita bisa melihat bagaimana polosnya Musdalifah, Ipul yang ternyata di kehidupan sehari-harinya ternyata emang mukanya tanpa ekspresi, Yudha Keling yang punya pacar cantik. Hal-hal ini tentu tidak akan kita ketahui jika tidak ada interaksi lebih antara host dan peserta.

Memasuki 8 besar persaingan semakin ketat kayak pakaiannya Spiderman, tapi semakin ketat kayak kaos Duo Srigala saat masuk 4 besar, tak disangka-sangka Yudha Keling yang punya perkembangan bagus selama kompetisi akhirnya harus gantung mic. Tapi harus diakui 3 grand final punya karakter yang berbeda dari para peserta lain dan mereka layak untuk masuk final.image

Keluarnya Mas Cemen sebagai pemenang juga sebagai bukti bahwa kompetisi ini bukanlah kompetisi abal-abal yang lebih melihat kualitas daripada rating, Mas Cemen pantas juara karena dibandingkan Musdalifah dan Ephy, cemen paling matang dalam dunia StandUp comedy, dia pernah menjadi opener show Sammy Notaslimboy dan sering ikut kompetisi StandUp. 👍

Sepanjang Stand Up Academy ada satu moment atau statemen juri yang merubah pandangan saya tentang StandUp Comedy bahwa StandUp Comedy bukanlah komedi cerdas. Dalam salah satu show 24 besar grup 4, saat sedang mengomentari peserta dari Balikpapan Raditya Dika ngomong gini:

Gue suka risih kalo StandUp Comedy dibilang komedi cerdas, StandUp comedy bukan komedi cerdas tapi komedi yang relevan! Orang-orang ketawa sama materi lu bukan karena materinya cerdas tapi karena materi lu relevan sama penonton. Jadi kalo penonton gak ketawa sama komedi lu bukan berarti penonton gak cerdas, tapi materi lu yang gak relevan sama penonton. Lu harus cari materi yang bisa lu bagi ke penonton dan bisa diketawain sama-sama…. “

Kurang Lebih gitulah yang dibilang Raditya Dika, kalo lebih itu berarti saya nambahin, kalo kurang tolong dimaapkeun, saya masih mencari videonya di Vidio.com tapi intinya gitulah. 😛

Jadi, SUCA menurut saya bukanlah tayangan komedi cerdas, tapi komedi yang relevan, menertawakan hal-hal disekitar kita yang selama ini jarang kita tertawakan. Itu…

Iklan

26 thoughts on “StandUp Comedy Academy bukanlah komedi cerdas

  1. Judul artikelnya tricky banget ya haha

    Kalo gak salah, Daned tuh yang bikin Komtung.TV Web yang isinya segala hal tentang komedi tunggal alias stand up comedy. gitu

    Eh tapi bener juga ya kata-kata Radit itu. Nice banget

    1. Kalo daned itu dia udah ada di stand up comedy kompas di season pertama. Cuma emang dia kurang dalam perform. lebih jadi penulis komedinya aja. kaya acara buka puasanya di kompas dulu sempet dia yang nulis (kalau ngga salah)

  2. Hai Kak Eriik

    hummm… saya stay tune dengan statementnya Radiya Dika..
    walaupun di pondok ngk ada Teve :-D, tp pernah suatu ketika #halah lebay πŸ˜€ iya suatu ketika mampir kerumah tetangga pondok yang punya teve, dan kebetulan lagi nonton stund up komedy, saya sempat membatin seperti statemenya bang Dika, malah sempat berfikiran apa mungkin penontonya dibayar untuk ketawa untuk sesuatu yang tak senada kecerdasannya dengan tema yang diangkat? hhe ini hanya menurut pemikiran sempit saya… hho..:-D

    1. Haiii Mut.. teryata kamu lagi mondok ya. Kirain orang Gorontalo yang udah pindah ke luar kota. hehe

      Iya sih, kalo materinya gak lucu ya emang komedinya aja gak relevan sama kita, bukan berarti kitanya gak cerdas. πŸ˜€

  3. hmm… tapi jujur, kalau gue nonton sih gue masih lebih suka suci. kayaknya agak sedikit banyak ya pakai mentor segala. mantep bangeti itu statement, nampar abis. secrdas-cerdasnya materi kalau nggak relevan terus penonton nggak ngerti, nggak bakal ketawa juga deh tuh

    1. Kalo soal konsep SUCI emang lebih pas disebut kompetisi karena semua prosesnya ada dari Audisi sampai Grand Final. Alumni SUCI juga udah terbukti kualiatasnya, tinggal tunggu nih apakah Alumni SUCA bisa tetep eksis di dunia entertainment. πŸ˜€

  4. Tapi kok aku ngerasanya kalau SUCI jauh lebih bagus daripada SUCA yang kebanyakan host. Mungkin karena konsepnya atau tallentnya kali. Masalah selera sih.

    Emang iya Raditya Dika pernah ngomong gitu? Ada benernya sih..

  5. Radit emang sering gitu kadang. Banyak benernya. hahaha. Semenjak gak punya TV, gue jarang banget nonton yang beginian bg. Cuman sekali entah dua kali gue nonton, udah tu ya gue gak tau kelanjutannya.

    Ya soal komedi cerdas, menurut gue kurang tepat juga. Lagiankan itu lebih kepada materi yang gak orang pikirin (bukan kategori cerdas) karena ada yang bisa mikirin. Nah, maka dari itulah Stand Up comedy disebut relevan. Ya, semoga semuanya sukses di bidangnya masing-masing. Amin..

    1. Konsep komedi cerdas juga gak jelas, apakah materi yang berisi politik disebut komedi cerdas dan materi kelucuan sehari-hari gak cerdas? Susah emang.. tapi emang lebih pas disebut Komedi Relevan. πŸ™‚

  6. Wahaa mas πŸ˜€ pecinta standup juga ya πŸ˜€ aku penikmat juga sih :)) hihihi

    Stand up di Indosiar seakan kayak mengepakkan sayap dunia standup ya mas. Sekarang standup beneran udah kemana-mana loh ya πŸ˜€ inbox ada, RCTI ada, MNC ada, transtv ada. kerenlah pokoknya πŸ™‚

    Dan, yak, standup itu komedi yang relevan :))

    1. Iya.. kayaknya hampir semua TV memasukan StandUp sebagai salah satu hiburannya. Beberapa ada yang membuat programnya, sedangkan yang lain belum berani dan hanya dijadikan selingan di program lain. πŸ˜€

Abis baca-baca gak mau komentar dulu nih? Sinilah.. diskusi kita. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s