“Ngapain sih ikut Demonstrasi?”

“Ngapain sih ikut-ikutan demo gitu.
“Lah! Emangnya kenapa?”
“Kan bikin macet, capek teriak-teriak, udah gitu aspirasinya gak didengar sama pemerintah. Daripada gitu mending pakai cara diskusi ato gak berbuat yang real aja di masyarakat, bikin rumah singgah buat anak jalanan kek, Yahh.. yang bergunalah untuk masyarakat.”
“Demonstrasi kan dilindungi undang-undang… “
“Iya sih tapi kan gak didenger juga sama penguasa. Mending kita bikin rumah singgah untuk anak jalanan, bantu masyarakat miskin yang membutuhkan.”
“Gini broh, menurut gue Demonstrasi itu penting untuk menunjukan bahwa Mahasiswa masih peduli, ingat juga kita terlepas dari rezim penguasa otoriter karena demonstrasi Mahasiswa tahun 1998. Lagian gini deh, lo bikin rumah singgah untuk anak jalanan terus belajarnya di bawah kolong jembatan, di rumah gubuk padahal seharusnya mereka dapat pendidikan yang layak dan ruang belajar yang nyaman dan itu semua harusnya disediakan oleh pemerintah. udahlah.. gak usah ngomongin demo bagus atau tidak, tiap mahasiswa punya perjuangannya sendiri-sendiri. Ada yang lewat Demonstrasi, ada yang langsung turun kebawah. bahkan lebih bagus lagi kalo dia Demonstrasi sekaligus turun langsung ke masyarakat.
“……i..iya..”
“daripada berdebat mana yang lebih baik dan mana yang tidak, lu tau gak apa yang lebih buruk? Menurut gue mahasiswa yang buruk adalah mahasiswa yang tidak peduli sama sekali, dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan hanya bisa mengutuk aksi-aksi demonstrasi. Jenis mahasiswa seperti ini kantaeekkk 💩”

Lagi rame-ramenya demonstrasi akibat pencabutan subsidi BBM (atau bahasa yang orang pahami “kenaikan harga BBM”). Tapi tulisan kali ini bukan mau bahas tentang BBM, kalian bisa baca tulisan itu di blog-blog lainnya. Bukannya apa-apa, menurut gue perdebatan tentang penghapusan BBM bersubsidi ini lebih banyak dihubungkan dengan Pilpres kemaren, perdebatannya antara tim sakit hati versus tim relawan garis keras, dan kita sudah keluar dari substansi yang harusnya kita debatkan apakah tujuan penghapusan BBM Bersubsidi? Kenapa? Kalo dihapuskan artinya pendapatan Negara bertambah. Uang bakal dikemanain? Terus bagaimana pemerintah menekan inflasi akibat penghapusan subsidi?.

Demo dimana-mana, seluruh Mahasiswa se-Indonesia bereaksi akibat penghapusan Subsidi BBM sebesar Rp2000. Gue pribadi mendukung penghapusan subsidi, tapi gue juga mendukung demonstrasi Mahasiswa. #loh!

Gue mendukung penghapusan subsidi karena ternyata selama ini subsidi yang harusnya diperuntukkan untuk kalangan menengah ke bawah ternyata malah dinikmati oleh kalangan atas. Jadinya subsidi tidak tepat sasaran. Gue mendukung demonstrasi Mahasiswa sebagai salah satu bentuk ekspresi intelektualitas yang bertujuan menyampaikan aspirasi kepada penguasa (pemilik kebijakan).

Sebelumnya tulisan ini bukan karena gue ahli tentang pergerakan Mahasiswa khususnya Demonstrasi, gue hanya pengen berbagi aja apa yang gue tau. Sekalian pelurusan bahwa Demonstrasi sebenarnya kegiatan yang gak seluruhnya negatif. Hehe. πŸ˜€

Saat gue jadi mahasiswa pernahlah ikut Demonstrasi, walaupun gak sering tapi gue pernah. Kebanyakan demo yang gue ikuti biasanya aksi-aksi Demonstrasi untuk solidaritas, bencana alam, aksi damai peringatan hari anti korupsi dan hari-hari besar lainnya kecuali hari besar agama dan 17 Agustus karena itu dilarang.

Gue ingat pertama kali ikut Demo untuk menuntut kebijakan, kalo gak salah ingat itu tahun 2012, gue bersama kawan-kawan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo demonstrasi di depan kantor Gubernur Gorontalo, saat itu isunya sama dengan saat ini, yaitu kenaikan harga BBM.

Feel-nya beda ternyata demo aksi damai sama demo untuk menuntut kebijakan, Waktu itu dari pagi gue udah ada di sekretariat HMI Cab. Gorontalo, di depan sekretariat udah ada 2 polisi berpakaian preman (gue tau mereka Polisi karena mereka ngikutin kita dari sekretariat cabang sampai ke kantor Gubernur, terus mereka banyak nanya ke salah seorang teman tentang jumlah pasti massa HMI yang bakal ikut Demo, koordinator aksinya siapa. Mereka kepo bangetlah, padahal semua infonya udah ada di surat izin yang dikasih ke kantor Polisi). Sampai di depan kantor Gubernur Polisinya lebih banyak lagi, padahal massa HMI saat itu hanya sekitar 50 Orang. Sekitar 30 menit berorasi kami meminta Gubernur untuk keluar gedung menemui Mahasiswa untuk beraudiance. Tapi sayangnya yang turun untuk menemui mahasiswa adalah Asisten Gubernur Bidang Ekonomi, kami pun langsung menolak beliau dan tak memersilahkannya bicara.

Setelah itu suasana makin panas, karena Gubernur maupun Wakil Gubernur belum juga turun menemui Mahasiswa. Kami mencoba merangsek masuk untuk berorasi tepat di depan pintu kantor Gubernur, tapi puluhan polisi sudah membentuk barikade untuk menahan massa, Alhasil tejadilah saling dorong antara Mahasiswa dan Polisi. Saat itu gue berada ditengah barisan mahasiswa, jadi gue gak ikut dorong-dorongan tapi malah di dorong sama teman yang dibelakang, sementara di depan gue ada mahasiswi. Gue buru-buru keluar dari kerumunan massa, karena takut ditampar sama salah satu mahasiswi akibat dianggap mencari kesempatan di dalam kesempitan. Haaa.. XD

Gak lama kemudian turunlah Wakil Gubernur bersama ketua DPRD Provinsi menemui Mahasiswa. Dua pejabat itu bukanlah orang asing bagi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cab. Gorontalo, karena mereka adalah senior-senior kami. Mereka adalah Alumni HMI, saat mahasiswa mereka adalah kader HMI dan sering demonstrasi juga. πŸ˜€

Sekitar 30 menit kami menyampaikan aspirasi ke Wagub dan Ketua DPRD, setelah selesai kami membubarkan diri dan pulang dalam keadaan tertib, aman, damai dan jom*lo.

Pulangnya dari demo, gue lalu mikir. Kenapa kita harus capek-capek demo ya untuk menyampaikan aspirasi? Kalo cuma pengen nyampein aspirasi ke pejabat kan bisa langsung nelpon. Khususnya HMI, kita punya banyak senior dan alumni yang sekarang menjadi Gubernur, walikota, bupati dan anggota DPR. Kita punya nomer teleponnya karena setiap kegiatan HMI senior pasti di undang. Lalu untuk apa kita demo?

Sampai pada tahap itu gue berpikir bahwa Demonstrasi adalah suatu pencitraan mahasiswa, untuk menunjukan bahwa Mahasiswa masih peduli, mahasiswa sebagai kaum intelektual menjalankan tugasnya sebagai agent of control dan gak ada yang salah dengan itu. Demonstrasi juga sebagai alat pemberitahuan kepada penguasa bahwa ada yang keliru dalam kebijakannya, makanya perlu dilakukan demonstrasi sebagai upaya diplomasi antara Mahasiswa dan Pemerintah untuk kemudian bersama-sama mencari solusinya atau alternatif kebijakan lain.

“Demo tuh bikin macet jalan, terus sering rusuh” kata seorang teman. Ya bukan salah demonstrasinya kalo jalanan macet, demo itu dilindungi undang-undang, makanya demo yang legal itu jika sudah dapat izin dari kepolisian, sehingga pas demo Polisi bisa mengawal dan mengatur lalu lintas tempat dilaluinya demo tersebut.

Bagaimana dengan yang ricuh? Eittss.. jangan anggap itu yang salah selalu dari pihak Mahasiswa. Dalam setiap demo yang ricuh selalu ada provokator, provakatornya bisa dari Mahasiswa, Polisi atau Wartawan yang sedang meliput bahkan ada juga loh provokator dari luar yang tujuannya pengen demo itu ricuh. Ckckck

Menurut gue permasalahan demonstrasi hari ini adalah banyak mahasiswa yang kadang cuma ikut-ikutan aja untuk demo, mereka tidak tahu apa aspirasi yang akan disampaikan. Lalu yang gue lihat demonstrasi di daerah selalu yang diangkat isu nasional, jarang mengangkat isu kedaerahan, kemana Mahasiswa Jawa Timur? Kenapa mereka mendiamkan kasus lumpur Lapindo yang sampai sekarang pembayaran ganti ruginya masih ditunggak oleh grup Bakrie! kemana Mahasiswa NTT? Kenapa mereka mendiamkan praktek perdagangan Manusia, padahal ada banyak oknum pejabat yang juga terlibat. Dan masih banyak lagi permasalahan di tiap daerah yang jarang diangkat oleh mahasiswa. Kedepan mahasiswa harus mulai peka terhadap isu kedaerahan.

Terakhir gue cuma pengen bilang, udahlah gak usah berpikir negatif lagi tentang Demonstrasi, karena pada dasarnya niatnya itu baik, cuma ya kadang ada juga pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga demo bisa berakhir ricuh. Dan gak usahlah dipertentangkan lagi mana yang lebih baik, turun aksi atau terjun langsung di masyarakat. Semua punya perjuangannya masing-masing, silahkan pilih perjuanganmu. πŸ™‚

Kekuasaan itu adalah lupa. Maka, kritik dan kontrol kepada kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa” ~Milan Kundera

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan,dan segala-galanya yang non-humanis”~Soe Hok Gie

*update
Dari beberapa komentar gue lihat banyak yg gak setuju dengan Demo Anarkis. Gue juga gak setuju karena inti dari demo bukan itu. Seperti yang gue tulis diatas demo itu Ilegal jika dilakukan pada hari-hari besar, dan waktu demonstrasi hanya diperbolehkan sampai pukul 18.00. Jika sampai jam segitu tujuan demo belum tercapai maka akan dilanjutkan besok hari. Apabila demo masih berlangsung sampai malam hari maka Polisi berhak membubarkan demo. Dan gue yakin kalo ada yang demo sampai malam hari mereka gak punya surat izin. Soal anarkis ada banyak penyebabnya, gue udah tulis diatas. Thanks. πŸ™‚

Iklan