Mereka berdiri diam, Melawan Lupa!

“Kami melakukan aksi berdiri dan diam di depan Istana negara di Jakarta, sebuah simbol kekuasaan, setiap hari Kamis jam 4 sampai jam 5 sore. Kami terpaksa melakukan tindakan seperti ini, meskipun tindakan ini dijamin oleh UUD 1945, sebagai upaya menuntut penuntasan kasus kasus yang menimpa kami dan sanak keluarga kami secara adil. Tindakan ini juga penting untuk menunjukkan bahwa kami ada, kami masih menjadi warganegara di bumi pertiwi Indonesia.”

Kali ini gue pengen memperkenalkan bapak-ibu kita yang setiap hari kamis berdiri di depan Istana Negara. Mungkin ada yang sudah kenal mereka, ada yang belum dan ada yang kenal tapi melupakan mereka. Mereka adalah korban dan keluarga korban yang menuntut keadilan atas kasus HAM.

Setiap hari kamis jam 4-5, kalo kalian yang berdomisili di Jakarta dan sering lewat depan Istana Negara di Jalan medan merdeka utara, akan melihat mereka berdiri di seberang Istana Negara. Berdiri diam, sambil memakai pakaian serba hitam, memakai payung hitam dan spanduk berisi foto-foto keluarga mereka yang diperlakukan tidak adil oleh Negara.

Mereka menyebut kegiatan ini “Aksi Kamisan”, aksi berdiri diam tanpa suara, lewat diam mereka ingin Melawan Lupa!

Mereka memulai aksi ini sejak 18 Januari 2007, dan setiap hari kamis mereka konsisten berdiri diam di seberang Istana. Setiap kamis juga mereka mengirimkan surat kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ratusan kali surat itu dikirim, ratusan kali pula surat itu tak dibalas oleh Bapak Presiden kita.

Saat hujan dan badai mereka tetap bertahan, bahkan mereka pernah dibubarkan oleh Polisi karena saat itu Pak Presiden SBY sedang kedatangan Tamu Negara. Apakah pak Presiden malu karena kehadiran mereka?? Entahlah.

Setiap pak Presiden lewat, kaca mobilnya selalu tertutup, para petugas langsung berbaris menutupi mereka, sehingga yang bisa dilakukan hanya mengangkat Payung mereka tinggi-tinggi dengan harapan Presiden melihat mereka.

Lalu sampai kapan “Aksi Kamisan” ini akan terus berlangsung? Mereka bersepakat, Kamisan akan berakhir kalau mereka tinggal tiga orang, tetapi sejauh ini tidak pernah sampai tiga. Bahkan pernah 200-an orang, penah juga hanya sembilan
orang. Mereka baru akan berhenti kalau Presiden membuat Pengadilan HAM untuk kasus pelanggaran HAM. Permintaan mereka hanya sesederhana itu.

Hari ini tanggal 12 Juni 2014 adalah aksi kamisan mereka yang ke-355, Aksi mereka benar-bener menyentuh gue. Mereka tidak menggunakan unsur kekerasan dan pengerusakan, di mata gue aksi kamisan lebih melambangkan sebagai sebuah semangat perjuangan untuk keadilan yang tidak kunjung berhenti. Perjuangan melawan ketidakadilan. Perjuangan melawan lupa. Melawan amnesia kolektif, sebuah penyakit yang diderita, yang gue rasa, hampir semua dari masyarakat Indonesia.

Tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak manapun, hanya ingin berbagi dan memberi tahu bahwa ada orang-orang yang setiap kamis menuntut keadilan atas keluarga mereka. Mereka yang sering terlupakan, tapi mereka tetap melakukan aksi itu untuk Melawan Lupa.

“Suatu hari nanti kalo gue ke Jakarta, gue ingin ikut bersama-sama mereka, berdiri di seberang Istana Negara, untuk Melawan Lupa..”

Profil Aksi Kamisan
dari kontras.org

Kami adalah para korban tindak kekerasan diberbagai kasus, diberbagai tempat dengan berbagai alasan. Kami juga adalah para keluarga korban yang anak kami,suami kami, istri kami, bapak kami, ibu kami atau keluarga kami menjadi korban atas peristiwa kekerasan.

Kami melakukan aksi berdiri dan diam di depan Istana negara di Jakarta, sebuah simbol kekuasaan, setiap hari Kamis jam 4 sampai jam 5 sore. Kami terpaksa melakukan tindakan seperti ini, meskipun tindakan ini dijamin oleh UUD 1945, sebagai upaya menuntut penuntasan kasus kasus yang menimpa kami dan sanak keluarga kami secara adil. Tindakan ini juga penting untuk menunjukkan bahwa kami ada, kami masih menjadi warganegara di bumi pertiwi Indonesia. Meskipun kami hanya berdiri dan diam tapi kami tetap ada dan kami tetapmenuntut hak kami sebagai manusia dan sebagai warga negara.

Kami harus berdiri, sebagai simbol bahwa kami adalah warganegara yang tetap mampu berdiri untuk menunjukkan bahwa kami punya hak. Kami sadar bahwa hak kami tidak gratis bisa didapat, terlebih-lebih ketika pemerintah dan masyarakat membiarkan kami dan tidak mendengar kami.

Kami diam menunjukkan bahwa kami bukan perusuh, kami bukan warga negara yang susah diatur dan bukan warganegara yang membuat bising telinga. Kami percaya dengan diam-pun kami tidak kehilangan hak kami. Biarpun kami diam, pemerintah tetap berkewajiban memenuhi hak-hak kami.

Biarpun kami cuma berdiri, kami tetap bisa melakukan sesuatu. Meskipun kami cuma diam, akan tetapi diam kami mengandung fakta dan tuntutan. Dan kami akan terus melakukan ini sampai keadilan benar-benar terwujud bagi kami parakorban dan keluarga korban kekerasan
di Indonesia.

Kertas yang sedang anda pegang dan sedang anda baca ini adalah alat kamiuntuk berbicara dengan anda, dimana anda berada, dengan siapapun anda berada. Meskipun kami dianggap bukan siapa-siapa tapi kami tetap bersama-sama dengan anda sebagai warganegara.

Kalau anda tidak bisa bersama kami, Jangan lupa doakan kami dan semangati kami.

Andalah sahabat kami.

Jakarta, 25 Januari 2006
Korban dan Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II,Tragedi Mei 1998, Tragedi Penculikan Aktivis 1997/1998, Tragedi Tanjung Priok, Tragedi Talangsari Lampung 1989, Tragedi 1965, Tragedi 27 Juli 1996, Pembunuhan Munir.

——————————————–

⭐ Update Rabu, 18 Juni 2014:
Innalillahi wai inna ilaihi rojiun.. Telah meninggal dunia Ibu Nurhasanah, ibu dari Yahid Muhidin (Salah satu korban penculikan Aktivis 98). 16 Tahun mencari anaknya dan menuntut keadilan, tapi Presiden masih saja diam. Semoga beliau tenang disana.

Selamat jalan, Akhirnya Ibu Nurhasanah bertemu dengan Sang Maha Adil, setelah 16 Tahun Negara ingkar pada keadilan. Penantian anda jadi Inspirasi kami. 🙂

Iklan