Bukan Tugas Kita untuk Menghakimi

Suatu hari saat baru pulang dari kampus gue terlibat percakapan dengan seorang anak tetangga berumur sekitar 9-11 Tahun yang sedang memeluk dan bermain dengan seekor kucing kecil.

Gue (G): Itu Kucingmu dek?
Anak Tetangga (AT): Bukan..
G: Lah! Itu Kucing darimana?
AT: Gak Tau..
G: Itu kucing Jantan atau Betina? Berapa Umurnya?
AT: Gak tau kak..
G: Kayaknya belum pernah lihat kucing itu disekitar sini, Kamu dapat kucing itu di daerah mana?
AT: GAK TAU KAK!

Dengan suara yang Agak keras, Anak ini menjawab pertanyaan terakhir gue. Kayaknya dia gak suka dengan pertanyaan – pertanyaan gue. Pertanyaan itu gak penting dan mungkin yang penting baginya adalah bermain bersama kucing kecil itu.

Gue kehilangan nilai dari semua pertanyaan itu ketika pelabelan dan klasifikasi gue sedikit memaksa, gue malah justru mengkesampingan keinginan sederhana dari anak itu untuk bermain bersama kucing yang baru ditemukannya. Gue baru saja Menghakimi anak itu. Seperti halnya sikap-sikap orang yg sering menjudge adalah otoriter dan kekakuan berfikir.

Tulisan ini muncul saat selesai menonton Mata Najwa episode “Dibalik Diamnya Boediono”. Iya yang menjadi Bintang Tamu saat itu adalah Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Boediono. Entah loe kenal atau tidak, tapi gue banyak membaca pernyataan-pernyataan Sarkastik misalkan “Oh Indonesia punya wakil Presiden ya?”,”Pak Wapres kita kerja gak sih?”. Bahkan gue yakin loe udah pernah lihat meme tentang pak Wapres Boediono.

Ketika diundang di Mata Najwa beliau bercerita banyak tentang tugas-tugasnya di Pemerintahan dan Keluarganya. Saat itu gue berpikir… Selama ini Gue Menghakimi Pak Wapres Boediono. Selama ini juga gue berpikir, Pak Wapres kita kemana sih, kok jarang kelihatan. Jangan-jangan dia gak kerja. Dari pertanyaan-pertanyaan itu saja gue udah Kaku dalam berpikir. Kalo dipikirkan lebih jauh lagi Tugas Presiden dan Wapres kan udah diatur oleh Undang-undang, gak mungkinlah mereka gak kerja. Bahkan Orang-orang yang selama ini menganggap Pak Boediono itu gak kerja, Gue pengen nanya balik. “Jadi menurut lo Presiden kita udah kerja? Emang tugas Presiden apa aja?” Gue yakin juga gak ada yang tahu tugas Presiden itu ngapain. :/

Bukan tugas kitalah untuk menghakimi Manusia lain, Hari penghakiman suatu saat juga akan tiba. ๐Ÿ™‚

“Kita terlalu Banyak menghakimi orang, sampai kita lupa untuk mengenalnya.”

Sebagai penutup gue punya Cerita yg gue dapet dari Kaskus:

Seorang dokter sedang bergegas masuk ke dalam ruang operasi. Ayah dari anak yang akan dioperasi menghampirinya โ€œKenapa lama sekali anda sampai ke sini? Apa anda tidak tahu, nyawa anak saya terancam jika tidak segera di operasi?!โ€ Labrak si ayah.

Dokter itu tersenyum, โ€œMaaf, saya sedang tidak di Rumah Sakit tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak RS.โ€

Lalu ia menuju ruang operasi, setelah beberapa jam ia keluar dengan senyuman di wajahnya. โ€œ ๏บ๏ปง๏บธ๏บŽ๏บ€ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช , keadaan anak anda kini stabil.โ€ Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter tersebut berkata โ€œSuster akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan.โ€ Dokter tersebut berlalu.

โ€œKenapa dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!โ€ Sang ayah berkata pada suster.

Sambil meneteskan air mata suster menjawab, โ€œAnak dokter tersebut meninggal dalam kecelakaan kemarin sore, ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak anda. Sekarang anak anda telah selamat, ia bisa kembali berkabung.โ€

Jangan pernah terburu-buru menilai seseorang! Tapi maklumilah tiap jiwa disekeliling kita yang menyimpan cerita kehidupan tak terbayangkan di benak kita.

Oh iya ada cerita keren tentang dibalik taping Program Mata Najwa. Kereen men.. Judulnya “Najwa, May I Hug you?” ๐Ÿ™‚

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan