Jangan Lupakan Hari Patriotik 23 Januari 1942!

“Bentuk kepalan, angkat tinggi diatas kepala. Jadikan kepalan sebagai pesan bahwa kita masih dengarkan teriakan para pahlawan. Menoleh kebelakang, lihat yang ditinggalkan. Pelajaran tak harus dalam halaman buku sekolahan. Buka wawasan” (Menoleh – Pandji Pragiwaksono)

Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

Kalo Gue tanya kapan sebenarnya kita merdeka dari Penjajah?? …yuup Pasti Kalian akan bilang Tanggal 17 Agustus 1945. 🙂

Tapi kalo lo nanya Ke Orang Gorontalo, Kapan kami merdeka dari penjajah?? Kita akan Jawab Tanggal 23 JANUARI 1942. 😉

Sebelum Jawa memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gorontalo telah lebih dulu merdeka pada tanggal 23 Januari 1942, benar- benar bebas dari tangan penjajah, sayangnya sejarah nasional enggan mengabadikannya dalam skala besar, dan membiarkan sejarah itu hanya dalam ingatan anak- anak Hulondalo (Gorontalo) saja.

Hemm…. Sampe sini gue tau apa yg kalian pikirin, Beberapa dari pembaca akan menutup Tab atau langsung menuju kotak komentar karena menganggap tulisan ini akan membosankan karena pasti akan berbicara Sejarah. Oke itu benar karena gue akan bicara tentang Sejarah. Haha.. 😀
Tapi gue akan menulisnya secara ringkas aja, kalo mau panjang-panjang gue bisa copy paste dari wikipedia. Gue juga nulis ini biar gue selalu ingat dengan sejarah tempat tinggal gue sekarang.. GORONTALO. Bukankah ada slogan “JasMerah”, Jangan sekali-kali melupakan sejarah” 🙂

Indonesia dulu pernah dijajah Oleh Belanda selama 350 Tahun, Termasuk Gorontalo. Waktu itu Pemerintahan Daerah diambil alih oleh Belanda. Gak kebayang emang, Rumah-rumah kita kok yg jadi majikan malah orang asing. Pfft

Melihat hal ini tentunya Putra-putra daerah gak tinggal diam dong ya.. Mereka terus melawan untuk mengusir penjajah. Dan hal ini tentunya terjadi disemua daerah di Indonesia. Tapi gue akan ceritain tentang perjuangan Putra-putra Gorontalo untuk Merdeka. Dan di tiap daerah pasti punya Satu pahlawan yg dikenal sebagai pemimpin Perang atau Pemimpin Pergerakan seperti Halnya Imam Bonjol, Patimura. Di Gorontalo yg memimpin perjuangan untuk Kemerdekaan adalah Bapak NANI WARTABONE 🙂

Waktu itu jum’at subuh, tanggal 23 January 1942 (Pas banget gue nulis ini subuh2 di tanggal yg sama),pasukan Nani Wartabone dengan rakyat dari beberapa daerah di gorontalo, tiba di kota Gorontalo. 23 Januari memang udah ditetapkan sebagai hari penyerangan. Yang pertama di kuasai adalah tangsi polisi dan penangkapan terhadap kepala polisi belanda. Nani Wartabone mengigatkan; “Markas dan tangsi polisi telah di kuasai oleh pemuda dan rakyat. Sebaiknya Tuan menyerah saja”. Nah, si Kepala polisi yang besar itu ingin mencabut pistolnya, tetapi bedil pak Nani Wartabone sudah di todongkan ke perutnya. Langsung segera pasukan menyerbu, merampas pistol dan
melekatkan pedang, pisau dan keris ke tubuh orang belanda itu. Ia segera diringkus dan di jaga oleh beberapa pemuda. Setelah kepala polisi ditawan pasukan itu menuju rumah kontrolir (Semacam Gubernur gitu) . Orang ini terkenal dengan tatapan matanya yang tajam dan menakutkan. Nani Wartabone dengan para pemuda mendekatinya dan tidak takut dengan tatapan mata penjajah itu. Kontrolir (Gubernur orang belanda) masih menanyakan: “Mengapa kamu datang kesini? Apa perlunya? Segera pulang!”. Belum selesai perkataannya, Nani Wartabone telah menodongkan bedilnya, yang di ikuti gerak cepat para pemuda. Hampir terjadi insiden, namun Nani Wartabone mengigatkan: “Tidak boleh seorang pun yang menyakitinya atau keluarganya. Barang batang milik orang belanda tidak boleh di ambil. Siapa yang melanggar perintah ini, Akulah yang akan mengadilinya”. Kontrolir segera dijaga oleh beberapa pemuda di rumahnya.

Setelah dari Rumah kontrolir Nani Wartabone memimpin lagi penangkapan tuan Petrus (Orang belanda). Tuan Petrus orang yang ramah. Ia keluar dengan keramahannya. Nani Wartabone dengan ramah pula mengatakan: “Lebih baik Tuan Petrus menyerah saja kepada kami. Dan kami akan memperlakukan Tuan dengan baik”. Tuan petrus tidak melawan. Beberapa pemuda mendampinginya di rumah itu.

Setelah itu beberapa Pejabat Belanda Ditangkap lagi, Semua pejabat Belanda yang ditangkap kemudian dimasukan kedalam Penjara dan membebaskan Rakyat Gorontalo yg dipenjara. Sempat ada perlawanan ketika mereka akan dimasukan ke dalam penjara namun akhirnya mereka mereka menyerah.

Rakyat yang ditahan Belanda di keluarkan dari penjara. Mereka berteriak-teriak gembira, sambil mengucapkan terima kasih kepada Nani Wartabone dan para pemuda. Suasana rakyat di kota, yang telah datang dari pelosok gorontalo, tampak sangat gembira. Ada yang mengucurkan air mata, karena mengingat penderitaan yang dialami selama pemerintah Hindia Belanda. Ada yang bergembira karena telah tercapai Cita-cita Kemerdekaan.

Selesai penangkapan terhadap Belanda. Nani Wartabone memimpin rakyat untuk menurunkan bendera Belanda, merah putih- biru, dan menggantikannya dengan bendera nasional, merah putih. Yang mula-mula diturunkan adalah bendera di depan kantor pos. kain warna biru dirobek, lalu sisanya merah putih di naikan kembali. (Sama dgn kejadian perobekan bendera belanda di surabaya, tapi ya… Gorontalo kurang terExpos)

Rakyat di arah ke alun-alun di depan rumah Asisten Residen (sekarang rumah gubernur Gorontalo). Bendera belanda di turunkan dan di ganti dengan bendera nasional merah putih. Lagu indonesia raya di kumandangkan dengan penuh semangat, terutama oleh pemuda-pemuda dan siswa-siswa yang telah menguasai lagu tersebut. Para Orang tua-tua terharu, dan merasa bersyukur. Ketika itu rakyat menanti apa yang akan di perintakan pemimpin mereka.

Nani Wartabone tidak banyak berkata kata, karena banyak yang harus di kerjakan seperti pemerintahan dan keamanan. Ia berpidato, antara lain: “Pada hari ini tanggal 23 januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini sudah merdeka, bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita adalah merah putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintah belanda telah diambil alih oleh pemerintahan Nasional”. Rakyat menyambut pidato itu dengan tepuk sorak…..

Itulah peristiwa bersejarah yang terjadi di gorontalo, yang di kenal dengan : “HARI PATRIOTIK 23 JANUARI 1942, yang perjuangannya di pimpin langsung oleh : “NANI WARTABONE”. 🙂

Gimana ceritanya? Panjang ya.. ? Itulah sejarah Gorontalo. Ini hanya cerita ringkasnya saat 23 Januari 1942. Perjuangan Rakyat Gorontalo bukan hanya saat 23 Januari, sudah dimulai sebelum itu, bahkan setelah penjajahan belanda, penjajahan jepang, hingga
penumpasan berbagai pemberontakan di daerah Gorontalo rakyat Gorontalo tetap berjuang. 🙂

Pahlawan Gorontalo: Nani Wartabone

Pahlawan Gorontalo: Nani Wartabone

Monumen Patung Nani Wartabone

Monumen Patung Nani Wartabone

Begitu besar jasa dan perjuangan Nani Wartabone bagi masyarakat Gorontalo sehingga pada tahun 1987 dibangunlah monumen Nani Wartabone di tengah alun-alun Kota Gorontalo. Monumen ini juga sekaligus bertujuan untuk mengobarkan semangat kebangsaan terutama pada para pemuda Gorontalo layaknya perjuangan Nani Wartabone.

MERDEKA! (‘O’)9

Semoga bermanfaat 🙂

Referensi: Kaskus: Gorontalo & Hari Patriotik

Posted from WordPress for BlackBerry

Iklan