Slice of Life

marah kesal

Marah-marah.

Saya harus akui, saya punya sedikit masalah dengan pengendalian emosi. Baru tadi pagi saya marah dan sedikit berdebat dengan seseorang masalah uang. Salah satu topik yang saya paling malas untuk di debatkan. Saya marah karena si orang ini ngeyel soal hutang-piutang. Tapi kita tidak akan bahas itu.

Interaksi sosial, saya buruk soal itu. Sejak SD saya selalu berpindah-pindah tempat tinggal (walaupun masih sekecamatan), awalnya saya masih bisa ikut nimbrung dengan anak-anak kompleks, tapi masuk SMP dan Ibu meninggal saya memang lebih banyak di rumah. Tidak benar-benar punya teman dekat sampai kemudian lulus SMA.

Jadi ketika masuk kuliah dan mulai ikut organisasi, saya agak sedikit canggung dalam pertemanan. Ketika dalam forum dan ada perdebatan, saya menyadari sering terbawa emosi. Emosi yang terkendali sebenarnya, cuma bagi orang lain itu tidak. Terkadang saya tidak sedang marah, tapi orang melihat saya seperti marah, melihat orang yang mengartikan saya marah padahal tidak, bikin saya jadi beneran marah. Hahaha.

: SAYA PUNYA GAGASAN, GIMANA KALO KITA BUAT KEGIATAN INI.... NANTI PENDANAANNYA INI.... KITA TINGGAL KERJAIN BAGIAN INI...
: Boleh juga sih, tapi konsepnya nanti bakal sama kayak himpunan sebelah. kita butuh konsep baru.
: OKE GAK APA-APA.
: jangan marah dong.
: LAH SIAPA JUGA YANG MARAH?
: lah itu marah...
: GAK MARAH INI, BIASA AJA...
: Dih gitu aja marah..
: LAH SIAPA YANG MARAH? ORANG BIASA AJA!
: nah kan marah...
: ARRRGHHHH!!!!!! 

Jadi orang yang gampang emosian bikin mikir, saya itu bukan orang baik. Kalo ketemu dengan orang yang hummble dengan orang baru, murah senyum, kadang saya tuh suka iri loh. Kalo misalkan ketemu dengan teman-teman yang dari komunitas juga sama, lihatnya mereka kok baik banget, gampang berteman, gampang akrab dengan anak kecil. Sementara saya kaku banget. Dan orang yang cukup sinis kalau ketemu orang baru.

Saya sadar, saya butuh bantuan. Sudah mencoba beberapa layanan psikolog online. Sedang mencari penyebabnya. Saya harus keluar dari masalah ini, sebelum nanti berkeluarga. Karena saya tidak ingin jadi seperti bapak.

Tapi sampai malam ini saya masih kesal dengan kejadian tadi pagi, bisa-bisanya dia bikin saya marah di hari ulang tahun saya.

Lebih Personal dan Menjadi Bebas

Rumah baru dan cerita baru. Eh mungkin gak dengan cerita baru juga, rumahnya aja yang baru, orangnya kan masih sama. Cerita barunya mungkin, saya yang baru saja memindahkan blog dari wordpress ke blogspot. Ya, disaat orang lain memilih memindahkan blognya dari blogspot ke wordpress karena bisa dapat akses yang lebih, saya melakukan sebaliknya.

Di awal ngeblog saya memakai blogspot, tapi karena pusing dengan segala tetek-bengek desain yang membuat blog saya pada waktu itu seperti pasar karena banyak banget widget yang dipakai, gonta-ganti template karena iri dengan blog teman-teman lain kok bagus banget ya.

Akhirnya saya pindah ke wordpress gratisan yang tidak perlu banyak modifikasi tema karena sudah disediakan dan tinggal pilih. Saya mungkin tipe orang yang tidak terlalu suka diberi banyak pilihan karena hanya akan bikin pusing, memakai wordpress pada waktu itu menurut saya membatasi pilihan jadi bisa fokus ke menulis saja.

Tahun ini sebenarnya masuk tahun ke-7 umur blog saya di wordpress dengan lebih dari 200 postingan. Tapi akhirnya pindah lagi ke blogspot karena di wordpress saya tiap tahunnya harus membeli paket yang disediakan yang makin tahun-makin mahal, di 2015 pertama kali saya berlangganan harganya masih 200 ribuan per tahun, sekarang malah jadi 800 ribuan per tahun.

Saya bukan mikir gimana bayarnya, cuma mikir ini masih worth it gak ya bayar segitu untuk blog yang beberapa bulan terakhir tak pernah saya update lagi. Ini kayak beli barang tapi gak pernah dipake, ditinggalin aja gitu di lemari. Dan memang, tadinya sempat terpikir mau berhenti saja ngeblog, tapi belum nemu alasan yang kuat aja. Haha.

Karena kelamaan mikir, saya memilih untuk menyelamakan domain eparamata.com dulu. Urusan mau lanjut ngeblog atau tidak, saya punya waktu setahun untuk memikirkannya. Kenapa domainnya dulu diselamatkan? karena di banyak akun sosial media yang saya punya, termasuk email saya, username yang saya pakai itu eparamata, jadi kalo punya web dengan nama sama bagus aja kelihatannya. Oke ini emang gak penting tapi kalo ditulis di CV kan bagus kelihatannya. ya kan? oke gak penting ya. sip.

Di waktu mikir mau lanjut ngeblog atau nggak, saya malah bikin blog baru ini. Hadehhh.

Lebih personal dan Menjadi bebas

Saya sebenarnya gak berhenti menulis, saya masih menulis di tumblr, sekedar mengeluarkan sampah-sampah di kepala. Menulis adalah sebuah bentuk self-healing untuk saya yang sering overthinking dan sangat mudah dipengaruhi informasi atau orang lain, saya butuh ruang untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan kebetulan saya nyamannya dengan cara menuliskan gagasan itu agar bisa memikirkannya kembali.
Saya bisa saja melanjutkan blog lama saya, mengekspor semua tulisan ke blog ini dan melanjutkan kembali. Tapi saya merasa di blog lama seperti kehilangan identitas, yang saya tulis terlalu random dengan banyaknya sponsored post yang asal terima yang penting dibayar, jadi gak jelas aja maunya blog itu apa.

Jadi saya buat saja yang baru, blog yang saya inginnya sih lebih personal dan lebih bebas. Kalo kemarin banyak mikir takut merusak niche blog (yang baru saya sadar nichenya juga gak jelas), sekarang menjadi blog yang ngomongin hal-hal personal atau kalaupun nulis ulasan tetap dari sudut pandang personal juga.

Kalo dipikir-pikir capek juga kalo mau bangun blog dari awal lagi, tapi untungnya saya mengambil nilai yang berbeda ketika memulai blog baru ini. Kalo dulu kayaknya pengen jadi ini-itu, dikenal sebagai ini-itu, jadinya kayak ada beban kalo gak update-update blog. Kalo sekarang lebih ke ingin bercerita aja.

Jadi, mari kita mulai cerita ini… 🙂

*Update 12 Agustus 2019
Akhirnya pindah ke wordpress lagi dengan sewa hosting. Yah mumpung promo langsung sewa untuk 3 tahun kedepan. :3